
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Suasana politik Timur Tengah kembali memanas namun juga menyimpan momen tak biasa. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut-sebut akhirnya meminta maaf kepada Qatar.
Permintaan maaf itu disampaikan langsung di tengah pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Senin (29/9/2025).
Menurut keterangan resmi Gedung Putih, Netanyahu bahkan menelepon langsung Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani. Dalam percakapan itu, ia mengungkapkan penyesalan mendalam atas serangan yang menargetkan Hamas di wilayah Qatar.
“Sebagai langkah awal, Perdana Menteri Netanyahu menyampaikan penyesalannya yang mendalam bahwa serangan rudal Israel terhadap Hamas di Qatar dan secara tidak sengaja menewaskan seorang prajurit Qatar,” bunyi pernyataan Gedung Putih.
Lebih lanjut, pernyataan itu menambahkan:
“Ia selanjutnya menyatakan penyesalannya dengan menargetkan pimpinan Hamas selama negosiasi penyanderaan, Israel telah melanggar kedaulatan Qatar dan menegaskan bahwa Israel tidak akan melakukan serangan seperti itu lagi di masa mendatang.”
Israel sendiri belum mengeluarkan keterangan resmi, meski Netanyahu diperkirakan bakal berbicara bersama Trump dalam konferensi pers.
Pertemuan di Gedung Putih itu juga menghasilkan kesepakatan lain. Netanyahu dan Perdana Menteri Qatar disebut sepakat membentuk kelompok tiga arah untuk “meningkatkan koordinasi, memperbaiki komunikasi, menyelesaikan keluhan bersama, dan memperkuat upaya kolektif untuk mencegah ancaman.”
Permintaan maaf Netanyahu cukup mengejutkan, mengingat selama berminggu-minggu ia bersikap keras terhadap Qatar. Negeri kecil Teluk itu sebelumnya sering ia kritik karena menyediakan pangkalan bagi Hamas, meski Qatar juga menjadi lokasi pangkalan udara terbesar AS di kawasan.
Bagi Trump, serangan Israel ke Qatar disebut menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri. Gedung Putih mengungkapkan, insiden itu terjadi persis ketika para pemimpin Hamas tengah membahas proposal gencatan senjata yang diusulkan AS untuk Gaza.
Langkah Netanyahu meminta maaf ini bisa dibaca sebagai manuver diplomatik, di tengah tekanan internasional dan kompleksitas konflik yang terus meluas, mulai dari Gaza hingga Iran, Suriah, Lebanon, bahkan Yaman.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































