Raja Topan Ragasa Mendarat di Guangdong: 2 Juta Warga Dievakuasi, Bandara Ditutup

Topan Ragasa
Raja Topan Ragasa Mendarat di Guangdong: 2 Juta Warga Dievakuasi, Bandara Ditutup (Foto: X/@FatherChrisVor1)

TIMETODAY.ID, JAKARTA Topan Ragasa, siklon tropis yang dijuluki sebagai salah satu terkuat di dunia, akhirnya mendarat di Provinsi Guangdong, China Selatan, setelah sebelumnya menerjang Taiwan dan Hong Kong. Suasana mencekam terasa sejak pemerintah daerah menyatakan status darurat tingkat tinggi. Semua transportasi dihentikan, bahkan bandara ditutup.

Dikutip dari Reuters, Kamis (25/9/2025), Guangdong yang berbatasan langsung dengan Hong Kong dan Makau, ikut merasakan kedahsyatan Ragasa. Julukan “raja topan” bukan tanpa alasan, sebab badai ini sempat menguat menjadi kategori 5 dengan kecepatan angin menembus 260 km/jam.

Langkah darurat segera diambil. Lebih dari dua juta warga dievakuasi ke tempat aman. Tenda, tempat tidur lipat, hingga perlengkapan penyelamatan dikirim ke daerah terdampak. Kota-kota besar seperti Guangzhou, Shenzhen, Foshan, dan Dongguan lumpuh akibat pohon tumbang, kabel listrik putus, dan genangan air yang meluas.

Advertisement
Baca Juga :  Denny Mulyadi Soroti Pentingnya Adab bagi Generasi Muda

Pemerintah Shenzhen merelokasi sekitar 400 ribu orang dari kawasan dataran rendah dan rawan banjir. Tak kurang dari 500 tempat penampungan darurat disiapkan. “Bandara Shenzhen menghentikan penerbangan mulai Selasa malam,” bunyi keterangan resmi pemerintah kota.

Di sisi lain, kota Yangjian juga telah masuk status darurat tingkat tinggi. Sementara Kementerian Kelautan China mengeluarkan peringatan gelombang badai tertinggi—kode merah—dengan prediksi ombak setinggi 2,8 meter akan menghantam Delta Sungai Mutiara, kawasan padat penduduk yang selama ini dikenal sebagai pusat industri.

Baca Juga :  Benzema Ingin Pulang ke Bernabeu, Madrid Siap Sambut dengan Peran Baru

Meski kini kekuatannya mulai melemah, Ragasa tetap menyisakan kerusakan. Jalanan porak-poranda, toko-toko menutup etalase mereka dengan truk sebagai penghalang darurat. Namun, ada keyakinan bahwa kali ini Guangdong lebih siap menghadapi bencana.

“Pemerintah belajar dari Topan Hato dan Mangkhut yang menyebabkan kerugian besar pada 2017 dan 2018,” ujar Chim Lee, ahli energi dan iklim dari Economist Intelligence Unit.

Peringatan badai masih berlaku hingga Kamis. Warga di dataran rendah Shenzhen diimbau tetap waspada menghadapi ancaman banjir yang mungkin datang sewaktu-waktu.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel