TIMETODAY.ID, JAKARTA — Selama puluhan tahun, pembahasan soal kepribadian manusia kerap terjebak pada tiga istilah: introvert, ekstrovert, dan ambivert. Namun bagi sebagian orang, kategori itu terasa belum cukup menggambarkan diri mereka. Kini, sebuah konsep baru mulai diperkenalkan: otrovert.
Istilah ini hadir sebagai jembatan bagi mereka yang tidak sepenuhnya cocok dengan label lama. Otrovert digambarkan sebagai pribadi yang lebih nyaman menjalin interaksi mendalam secara personal dibandingkan terjebak dalam keramaian.
Mereka mengutamakan kualitas hubungan, bukan kuantitas, dan biasanya selektif dalam memilih lingkaran pergaulan.
Kepribadian ini juga ditandai dengan sifat mandiri, kreatif, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan akan koneksi sosial dan ruang pribadi.
Di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari, otrovert dikenal adaptif, memiliki kecerdasan emosional, serta gaya kepemimpinan yang halus.
Konsep tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Rami Kaminski, seorang psikiater ternama di Amerika Serikat. Dalam penjelasannya, otrovert adalah individu yang tidak merasa terikat pada kelompok sosial tertentu.
“Otrovert sangat ramah dan mampu menjalin hubungan yang sangat mendalam dengan orang lain. Satu-satunya perbedaan sosial terjadi pada kurangnya koneksi dengan kelompok: identitas kolektif atau tradisi bersama,” ujarnya, dikutip dari Lad Bible.
Di pesta atau acara besar, otrovert mungkin hadir, namun biasanya hanya memilih berinteraksi dengan sedikit orang. Mereka lebih memilih hubungan yang tulus daripada sekadar menjadi bagian dari keramaian.
Ciri utama otrovert antara lain:
-
Pemikiran mandiri dan ketahanan emosional
-
Koneksi sosial yang selektif, bukan jaringan luas
-
Kreativitas, daya lenting, serta kemampuan berkembang di luar norma kelompok
Berbeda dari introvert yang cenderung hemat energi sosial, atau ekstrovert yang justru terisi ulang lewat keramaian, otrovert berada di jalur tengah.
Mereka tetap bisa berbaur, namun menjaga otentisitas dengan cara yang sesuai dengan dirinya sendiri.
Munculnya konsep otrovert menegaskan bahwa kepribadian manusia jauh lebih berwarna dari sekadar label lama.
Ia membuka ruang pemahaman baru bahwa identitas sosial tidak selalu bisa dikotakkan secara kaku.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































