Doa Terakhir Umi Wulan di Majelis Taklim Sukamakmur

Umi Wulan
Mae (36), anak keempat almarhumah bersama suaminya Eki (42) menceritakan detik-detik bangunan majelis taklim ambruk. Foto : Amelia Azizah/timetoday.id.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Suasana duka masih menyelimuti rumah sederhana di Desa Sukamakmur, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sejak Minggu (7/9/2025) pagi, keluarga besar almarhumah Umi Wulan (64) menerima tamu silih berganti. Tangis kehilangan masih terdengar, bercampur dengan doa yang dipanjatkan untuk sang ibu, salah satu korban meninggal dunia dalam tragedi ambruknya bangunan majelis taklim.

Mae (36), anak keempat almarhumah, masih tampak terpukul saat mengenang kepergian ibunya. Ia menyebut Umi Wulan sebagai sosok sederhana yang selalu menempatkan pengajian sebagai bagian penting dalam keseharian.

“Pertama sih pasti shock, nggak menduga sampe kaya gini. Aktivitas ibu sehari-hari emang suka rutin ikut pengajian. Di sini kan pengajian dari Sabtu ke Minggu ada tiap kampung, ibu mah rutin dari Senin sampai Jumat juga,” tutur Mae lirih, Senin (8/9/2025).

Advertisement
Baca Juga :  Kisah Penemuan Bayi Laki-Laki di Toilet Stasiun Tenjo

Mae menjadi saksi mata detik-detik bangunan itu runtuh. Ingatan tentang momen mencekam tersebut masih jelas terbayang.

“Sekilat itu mah kejadiannya langsung ambruk. Saya mah di depan, ibu di dalam pas ambruk, berhamburan pada nyelametin,” tuturnya sambil berkaca-kaca.

Eki (42), suami Mae sekaligus menantu almarhumah, menambahkan, secara fisik Umi Wulan sebenarnya masih kuat meski usianya sudah lanjut. Ia tak memiliki riwayat penyakit serius. Namun benturan keras di bagian kepala saat kejadian membuat nyawanya tak tertolong.

“Pas dievakuasi masih ada, tapi ngga sadar. Kayanya meninggal di perjalanan. Pas di PMI diperiksa sudah nggak ada,” ungkap Eki.

Yang membuat keluarga semakin terenyuh, proses evakuasi almarhumah justru dilakukan oleh anaknya sendiri yang berprofesi sebagai sopir angkot. Tanpa menunggu ambulans, sang anak bergegas membawa ibunya ke rumah sakit.

Baca Juga :  Sejumlah Jabatan Strategis di Pemkot Bogor Akan Berganti Hari Ini

“Belum ada ambulan. Jadi anak yang nganterin ke PMI. Sayangnya di klinik 24 jam udah ngga bisa ditangani, langsung dibawa ke PMI,” kata Eki.

Almarhumah meninggalkan enam anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Semuanya kini berkumpul di rumah duka, saling menguatkan. Jenazah Umi Wulan akhirnya dimakamkan tak lama setelah tiba dari rumah sakit.

“Pulang dari rumah sakit setengah dua, jam setengah tiga udah beres dimakamin. Pokonya minta doanya ajah semoga umi diterima iman islamnya,” ucap Eki pelan.

Di mata keluarga, Umi Wulan adalah sosok yang tak pernah lelah menebar semangat ibadah. Kini, semangat itu hanya tinggal kenangan. Namun doa-doa terus dipanjatkan agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel