Eropa Stop Kuteks Gel dengan TPO, Pakar Kulit Bongkar Risikonya

Eropa
ilustrasi kuteks gel (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA— Uni Eropa resmi melarang penggunaan trimetilbenzoil difenilfosfin oksida (TPO) sejak Senin (1/9/2025) lalu. Bahan kimia ini selama bertahun-tahun menjadi komponen penting dalam kuteks gel, membantu polesan kuku mengeras ketika terpapar sinar.

Mengutip ABC News, distributor di seluruh Uni Eropa kini tak boleh lagi memasok produk yang mengandung TPO. Pemilik salon kecantikan pun diminta segera menyesuaikan diri dengan aturan baru ini.

Larangan itu merujuk pada penelitian terhadap hewan yang menemukan potensi bahaya kesehatan akibat paparan TPO. Meski begitu, sejauh ini belum ada kepastian apakah kuteks gel pada manusia menimbulkan risiko yang sama.

Advertisement

Padahal, kuteks berbasis gel tengah digemari karena dianggap lebih praktis: cepat kering, tahan lama, dan tak mudah terkelupas. Namun, di balik tren kecantikan ini, para ahli mengingatkan ada sejumlah bahaya yang mengintai.

Baca Juga :  Mayoritas Anggota Parlemen Eropa Desak Negara-Negara UE Akui Palestina

Risiko dari Balik Kilau Kuteks Gel

Salah satu masalah terbesar datang dari proses pengeringan. Kuteks gel membutuhkan paparan sinar ultraviolet berulang kali, sesuatu yang bisa berdampak serius pada kesehatan kulit.

“Kita sudah terpapar sinar UV dalam aktivitas sehari-hari. Ditambah lagi dengan paparan sinar UV selama proses pengeringan kuteks. Hal ini bisa meningkatkan risiko kerusakan kulit,” ujar dokter spesialis kulit Chey Ranasinge.

Selain risiko kanker kulit, kuteks gel juga menyimpan bahaya lain. Kandungan akrilat dan metakrilat di dalamnya bisa memicu alergi, mulai dari ruam hingga rasa gatal. Proses menghapus kuteks gel yang tidak hati-hati juga kerap berujung pada kuku retak, terkelupas, bahkan melemah.

Baca Juga :  Kilas Dunia: Ketegangan di Eropa Meningkat, Diplomasi Damai Prabowo di Timur Tengah

“Masalah-masalah tersebut bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk pulih seiring dengan pertumbuhan kuku yang rusak,” tambah Ranasinge.

Beberapa pengguna melaporkan munculnya bintik putih, lekukan, hingga kondisi kuku yang kering dan rapuh setelah penggunaan rutin kuteks gel.

Antara Tren dan Kesadaran

Di satu sisi, kuteks gel menawarkan keindahan dan kepraktisan. Namun, aturan terbaru Uni Eropa sekaligus menjadi pengingat bahwa tren kecantikan seringkali hadir bersama risiko yang tak bisa diabaikan.

Kini, konsumen dan pelaku industri ditantang untuk mencari alternatif yang lebih aman, tanpa harus mengorbankan kesehatan demi kilau di ujung jari.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel