TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah semilir angin Sanur yang hangat, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyambut delegasi Republik Islam Iran dalam gelaran CHANDI 2025 di The Meru Sanur, Bali, Selasa (2/9/2025).
Bukan sekadar pertemuan formal, momen itu terasa akrab, dengan keris khas Nusantara yang akhirnya berpindah tangan sebagai simbol persahabatan lintas budaya.
“Terima kasih atas kehadiran delegasi dari Republik Islam Iran, ini juga menegaskan hubungan diplomasi Indonesia dan Iran yang telah berlangsung selama 75 tahun,” ucap Fadli Zon dalam keterangannya, Rabu (3/9/2025).
Dalam forum tersebut, Fadli menyoroti pentingnya hubungan antarmasyarakat atau people connection. Ia mengaku sudah lima kali berkunjung ke Iran dan terpesona dengan peradaban yang kaya dan indah di negeri para penyair itu.
“Karena itu, sangat penting bagi kita untuk saling mengenal budaya masing-masing, hingga kemungkinan nominasi bersama ke UNESCO,” katanya.
Salah satu keterhubungan budaya yang disorot adalah tradisi Iftar di bulan Ramadan. Menurut Fadli, tradisi berbuka puasa bersama itu bisa menjadi pintu kerja sama baru dalam nominasi warisan budaya bersama ke UNESCO.
Tak hanya berbicara soal warisan, kedua negara juga membahas peluang kolaborasi nyata: dari penerjemahan karya sastra, pameran kaligrafi, pertukaran pemuda, hingga festival film.
Direktur Eksekutif Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin, bahkan menaruh perhatian khusus pada potensi kolaborasi fotografi.
“Kami membuka peluang kolaborasi pameran foto dengan melibatkan fotografer perempuan dari Iran, sehingga ini bisa menginspirasi fotografer yang ada di Indonesia juga,” ujarnya penuh semangat.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran, Hojatollah Ayoubi, memberi apresiasi terhadap forum budaya internasional pertama yang diinisiasi Indonesia.
“Kami senang akhirnya berkesempatan hadir di Indonesia. Dulu kita sering berbicara tentang sektor ekonomi, kini kita berbicara tentang kebudayaan, seni, sejarah, dan peradaban yang menjadi kekuatan kita bersama,” tuturnya.
Ayoubi menambahkan, sinema Iran yang dikenal puitis di mata dunia siap dijadikan ruang kolaborasi dengan sineas Indonesia. “Kami terbuka untuk produksi bersama, dan orkestra kami juga bisa menjadi ruang kerja sama dalam mempererat hubungan,” imbuhnya.
Sejarah kerja sama kebudayaan Indonesia–Iran sendiri bukan hal baru. Cultural Cooperation Agreement pertama ditandatangani tahun 1970 dan terus diperbarui, terakhir melalui Agreement on Cultural Exchange Program 2023–2026.
Pertemuan di Bali kali ini pun menjadi tonggak penting untuk merajut jembatan baru: bahwa diplomasi tak selalu harus kaku lewat meja perundingan, tapi bisa juga melalui puisi, kaligrafi, musik, hingga secangkir teh hangat selepas Iftar.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































