TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di balik layar perang besar kecerdasan buatan, muncul kisah yang menyerupai film thriller teknologi. Elon Musk lewat perusahaannya, xAI, baru saja melayangkan gugatan ke pengadilan federal California terhadap seorang mantan karyawan bernama Xuechen Li.
Li, yang tahun lalu bergabung sebagai engineer untuk melatih dan mengembangkan Grok—chatbot besutan xAI dituduh menyimpan rahasia perusahaan di perangkat pribadinya.
Bukan sembarang dokumen, melainkan teknologi yang menurut xAI “lebih canggih dibandingkan ChatGPT dan produk kompetitor lainnya.”
Menurut berkas gugatan, Li tak hanya menyalin file, tetapi juga melakukan berbagai cara untuk menyembunyikan jejak: mengganti nama file, mengompres data, hingga menghapus riwayat peramban.
Aksi itu diduga dimulai sejak Juli, dan akhirnya terungkap dalam sebuah rapat internal pada 14 Agustus, ketika Li mengakui perbuatannya.
Namun cerita tak berhenti di situ. xAI menyebutkan masih menemukan lebih banyak informasi curian di perangkat Li—yang sebelumnya tidak pernah diungkap.
Ada pula motif finansial yang menambah bumbu drama ini. Sebelum resmi hengkang untuk bergabung dengan OpenAI, Li disebut meminta xAI membeli kembali saham kompensasi miliknya senilai sekitar USD 7 juta.
Kini, Musk dan tim hukumnya mendesak pengadilan untuk:
- menerbitkan perintah penahanan sementara,
- memaksa Li menyerahkan perangkat pribadi serta akses layanan penyimpanan online,
- dan mengembalikan seluruh data rahasia.
Bukan hanya itu, xAI juga meminta agar Li dilarang sementara bekerja di OpenAI maupun perusahaan AI lain sampai semua rahasia dagang dipulihkan.
Gugatan ini menambah panas persaingan. Hanya beberapa hari sebelumnya, Musk dan xAI juga menggugat OpenAI dan Apple, menuduh keduanya berkolaborasi menciptakan monopoli di industri AI.
Di satu sisi, cerita ini memperlihatkan betapa besar nilai sebuah ide dalam industri kecerdasan buatan. Di sisi lain, ia juga mengungkap sisi gelap: intrik, tuduhan pengkhianatan, dan pertarungan hukum bernilai miliaran dolar yang bisa mengubah peta kekuatan AI dunia.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































