Lyons dan Luka Hitam di Kakinya, Ketika Nelayan Harus Berjuang Melawan Vibrio

Lyons
ilustrasi bakteri (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Bagi Linard Lyons, nelayan asal barat daya New Orleans, Amerika Serikat, hari itu seharusnya hanya rutinitas biasa. Ia tengah menangkap kepiting untuk cucu-cucunya ketika menyadari ada sebuah goresan kecil di kakinya. Tak disangka, luka sepele itu hampir merenggut nyawanya.

Awalnya, Lyons tetap beraktivitas seperti biasa. Namun keesokan harinya, ia bangun dalam kondisi tidak wajar. Ia mengalami delusi, disertai demam tinggi dan muntah. Sang nelayan sempat mengira hanya terserang penyakit ringan, sampai kemudian ia menemukan luka hitam yang menyebar di kaki kirinya.

Segera ia menemui dokter keluarga. Melihat kondisinya yang memburuk, dokter langsung mengirim Lyons ke ruang gawat darurat. Tak sampai satu jam, ia sudah berada di meja operasi.

Advertisement

“Saya diberi pertanyaan ‘Apakah saya boleh melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan hidup Anda?’” kenang Lyons, dikutip dari CNN.

Itulah kalimat terakhir yang ia dengar sebelum dibius. Saat itu, dokter memberi vonis peluang hidupnya hanya 50 persen, dengan risiko amputasi yang begitu nyata.

Bakteri Pemakan Daging yang Mengintai Perairan

Goresan kecil di kaki Lyons ternyata menjadi pintu masuk Vibrio vulnificus, bakteri berbahaya yang dikenal sebagai “pemakan daging”. Cleveland Clinic menyebut infeksi ini sebagai fasciitis necroticans, kondisi serius yang merusak jaringan di bawah kulit.

Baca Juga :  Rahasia Atlet Pulihkan Tubuh Lebih Cepat, Ini Manfaat Berendam Air Es

Bakteri Vibrio biasanya berkembang di perairan hangat, terutama daerah payau tempat air laut bercampur dengan air tawar.

Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) bahkan mencatat, kasus infeksi Vibrio di Pantai Timur melonjak 800 persen sepanjang 1988–2018.

Antara Hidup dan Mati

Beruntung, tim medis berhasil menghentikan penyebaran infeksi tanpa perlu amputasi. Lyons menjalani tiga hari di ruang intensif, tiga minggu rawat inap, dan berbulan-bulan terapi antibiotik. Kini, meski lebih dari tiga bulan berlalu, proses pemulihan kakinya masih jauh dari kata selesai.

Sebagai penderita diabetes, pemulihan itu terasa jauh lebih berat. “Penderitaan,” kata Lyons singkat, menggambarkan masa pemulihannya. Ia kini menaruh harapan besar pada prosedur cangkok kulit agar bisa kembali pulih.

Siapa yang Rentan?

Menurut Dr. Daniel Edney, Kepala Dinas Kesehatan Mississippi, infeksi Vibrio vulnificus jarang berakibat fatal pada orang sehat. Namun, mereka dengan sistem imun lemah perlu lebih waspada.

Baca Juga :  Peneliti Temukan Hubungan Konsumsi Minuman Manis dan Risiko Kanker Hati

“Hindari air jika memiliki luka terbuka atau luka yang berpotensi terinfeksi,” pesannya, mengingatkan bahwa setiap perairan pantai bisa saja terkontaminasi bakteri.

Perubahan Iklim, Pendorong Tak Terlihat

Sejumlah ilmuwan menilai, perubahan iklim menjadi faktor besar di balik meningkatnya kasus Vibrio. Lautan yang makin hangat serta naiknya permukaan laut menciptakan habitat ideal bagi bakteri tersebut.

“Air laut yang terlalu asin tidak cocok untuk Vibrio vulnificus. Tapi ketika tercampur air tawar, kondisinya menjadi lebih menguntungkan,” jelas Profesor Oliver dari UNC Charlotte.

Hal senada disampaikan Dr. Rachel Noble dari University of North Carolina, yang telah meneliti Vibrio sejak awal 2000-an.

“Ini bukan satu-satunya patogen yang meningkat akibat perubahan iklim. Tetapi kasus Vibrio bisa menjadi contoh nyata bagaimana iklim memengaruhi kesehatan manusia,” ujarnya.

Kini, luka kecil yang dialami Linard Lyons menjadi pengingat keras. Di tengah lautan yang semakin hangat, bahaya yang tak terlihat bisa datang kapan saja, bahkan dari sebuah goresan yang nyaris tak diperhatikan.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel