TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kalau kamu baru terjun di dunia saham, istilah “saham gorengan” mungkin sudah pernah mampir di telinga. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan saham gorengan? Apakah semua saham yang naik tinggi itu berbahaya?
Yuk, kita kulik dengan bahasa yang lebih santai tapi tetap akurat.
Apa Itu Saham Gorengan?
Secara sederhana, saham gorengan adalah saham yang harganya naik tajam karena dimanipulasi oleh pihak tertentu, bukan karena kinerja perusahaan yang membaik. Saham jenis ini biasanya berasal dari perusahaan kecil yang tidak terlalu dikenal, tapi tiba-tiba jadi sorotan karena harga sahamnya melonjak tak masuk akal.
Meski berisiko tinggi, saham gorengan sering diburu oleh para trader yang ingin untung cepat. Tapi hati-hati, karena di balik potensi profit, ada jebakan yang bisa bikin boncos seketika.
Kasus-Kasus Besar: Jadi Pelajaran Mahal
Manipulasi saham seperti ini bukan hal baru. Kita sudah pernah melihat kasus besar seperti korupsi pengelolaan dana di PT Asabri dan PT Jiwasraya, di mana dana investasi disalurkan ke saham-saham gorengan dan akhirnya merugikan negara serta para pemegang polis.
Ciri-Ciri Saham Gorengan
Biar kamu tidak jadi korban, penting untuk tahu tanda-tanda saham gorengan berikut ini:
1. Masuk Daftar UMA
UMA atau Unusual Market Activity adalah peringatan dari Bursa Efek Indonesia terhadap saham yang bergerak di luar kewajaran, biasanya naik ekstrem selama dua hari berturut-turut. Kenaikannya bisa mencapai batas auto reject atas (ARA), yaitu:
- 20% per hari (untuk saham di atas Rp 5.000)
- 25% (untuk saham Rp 200–Rp 5.000)
- 35% (untuk saham di bawah Rp 200)
Kalau sebuah saham masuk daftar UMA, waspadalah—bisa jadi sedang dimainkan oleh bandar pasar.
2. Volume & Nilai Transaksi Tidak Masuk Akal
Saham gorengan umumnya berasal dari perusahaan kecil (kapitalisasi pasar kecil), tapi tiba-tiba punya volume transaksi tinggi seperti saham unggulan (blue chip). Ini menandakan ada pergerakan tidak wajar.
Sebagai perbandingan, kapitalisasi pasar dihitung dari jumlah saham beredar dikali harga saham. Jadi, saham perusahaan kecil yang volumenya tiba-tiba besar harusnya bikin kamu curiga.
3. Antrian Bid dan Offer Tipis
Biasanya saham yang sehat punya antrean beli (bid) dan jual (offer) yang stabil. Tapi di saham gorengan, antreannya tipis-tipis—sering kali hanya 1 lot per harga. Ini memudahkan pelaku pasar untuk menggerakkan harga naik atau turun secara ekstrem.
4. Harga Naik, Kinerja Perusahaan Tidak Mendukung
Salah satu ciri paling mencolok: harga saham melesat tinggi tapi tidak ada informasi baru dari perusahaan. Bahkan, bisa jadi saat harga naik, kinerja keuangan justru memburuk. Ini jelas bukan sinyal yang sehat.
5. Sulit Dianalisis
Saham gorengan hampir mustahil dianalisis dengan pendekatan fundamental atau teknikal. Rasio keuangannya sering tak masuk akal. Misalnya, rasio PBV (price to book value) industri rata-rata 1,5 kali, tapi saham gorengan bisa punya PBV 20 kali atau bahkan 100 kali.
Secara teknikal pun sering tak jelas arahnya: kadang terlalu volatil, kadang malah seperti tidak aktif sama sekali.
Jadi, Harus Hindari?
Tidak semua saham yang naik cepat adalah gorengan. Tapi kalau kenaikannya tidak disertai dengan data yang masuk akal, atau mencurigakan dari sisi volume, bid-offer, dan kinerja emiten—sebaiknya jangan ikut-ikutan FOMO. Ingat, yang pertama masuk bisa untung, tapi yang terakhir sering jadi korban.
Kesimpulan: Waspada Itu Kunci
Investasi di saham memang menjanjikan keuntungan, tapi jangan sampai kamu tertipu gemerlap saham gorengan. Pelajari fundamental perusahaan, cek informasi dari Bursa Efek Indonesia, dan jangan mudah tergoda janji manis cuan instan.
Karena di dunia investasi, yang instan seringnya justru berakhir gosong.
Editor : Syafira
Sumber : CNBCIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































