TIMETODAY.ID — Di salah satu sudut bukit di barat laut Hongaria, puluhan ribu buku tua berusia ratusan tahun tengah berjuang melawan musuh kecil: kumbang pemakan buku. Di balik dinding tebal Archabbey Pannonhalma—biara Benediktin berusia 1.000 tahun yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO—para penjaga pengetahuan sedang bekerja keras memindahkan sekitar 100.000 buku berharga untuk diselamatkan.
Perpustakaan biara ini bukan sembarang gudang buku. Ia memeluk sejarah panjang Hongaria, berdiri bahkan sebelum Kerajaan Hongaria lahir pada tahun 1000 Masehi. Selama berabad-abad, Pannonhalma menampung koleksi catatan penting, manuskrip langka, hingga Alkitab abad ke-13. Di sinilah katalog buku pertama Hongaria disusun.
Namun di antara barisan rak kayu yang menua, ancaman datang dalam bentuk tak terduga: kumbang obat—juga dikenal sebagai kumbang roti. Biasanya serangga ini ditemukan di rempah-rempah atau biji-bijian kering, tetapi perekat berbasis pati dan gelatin pada jilidan buku membuat rak-rak Pannonhalma menjadi ‘surga’ baru.
Lubang Kecil, Luka Besar
Ancaman pertama kali terungkap saat pembersihan rutin. Staf perpustakaan menemukan debu aneh di rak, lalu mendapati lubang kecil menganga di punggung buku. Ketika lembar-lembar halaman dibuka, jejak gigitan serangga tampak jelas—pertanda bahwa koleksi warisan ini sedang dirongrong perlahan.
“Ini adalah serangan serangga tingkat lanjut yang telah terdeteksi di beberapa bagian perpustakaan. Seluruh koleksi diklasifikasikan sebagai terinfeksi dan harus dirawat pada saat yang bersamaan,” jelas Zsófia Edit Hajdu, kepala restorator proyek penyelamatan, kepada Stuff.
“Kami belum pernah menghadapi tingkat infeksi seperti ini sebelumnya,” lanjutnya.
Ribuan buku kemudian dibungkus dalam peti khusus. Metode disinfeksi pun dijalankan: buku-buku dikarantina dalam balutan plastik kedap udara. Oksigen disedot habis, diganti nitrogen murni. Selama enam minggu, para staf berharap kumbang akan mati perlahan karena tak mampu bernapas.
Sejarah yang Rapuh
Archabbey Pannonhalma telah melewati invasi Ottoman, perang dunia, dan berbagai pendudukan asing. Namun, perubahan iklim memunculkan ancaman baru yang jauh lebih kecil namun tak kalah mematikan.
“Suhu yang lebih tinggi menguntungkan bagi kehidupan serangga,” kata Hajdu.
“Sejauh ini kami lebih banyak menghadapi kerusakan akibat jamur, baik di gudang maupun di koleksi terbuka. Tapi sekarang saya pikir semakin banyak serangan serangga akan muncul karena pemanasan global.”
Ilona Ásványi, direktur perpustakaan Archabbey, tak bisa menyembunyikan rasa hormatnya pada koleksi berharga yang ia awasi setiap hari.
“Sangat memusingkan untuk berpikir bahwa ada perpustakaan di sini seribu tahun yang lalu, dan bahwa kami adalah penjaga katalog buku pertama di Hongaria,” ujarnya.
Baginya, setiap gigitan kumbang bukan sekadar kerusakan benda mati, tetapi luka pada warisan yang tak ternilai.
“Ketika saya melihat buku yang digerogoti oleh kumbang atau terinfeksi dengan cara lain, saya merasa bahwa tidak peduli berapa banyak salinan yang diterbitkan dan seberapa bisa digantikannya buku itu, sepotong budaya telah hilang,” ucap Ásványi.
Upaya Pelestarian yang Panjang
Sebelum dikembalikan ke rak, setiap buku akan diperiksa dan dibersihkan satu per satu. Buku yang rusak akan masuk daftar tunggu untuk direstorasi lebih lanjut.
Biara berharap bisa membuka kembali perpustakaan awal tahun depan, saat rak-rak kembali menampung harta pengetahuan yang telah bertahan selama satu milenium.
Di tengah laju pemanasan global, lubang-lubang kecil di punggung buku ini mengingatkan bahwa sering kali musuh sejarah datang dalam wujud yang nyaris tak terlihat—namun dampaknya bisa menghapus cerita berabad-abad lamanya.***
Sumber: cnnindonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































