TIMETODAY.ID — Foto Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat menjamu Putra Mahkota Bahrain Salman bin Hamad Al Khalifa di Gedung Putih mendadak jadi sorotan. Bukan karena diplomasi atau pidato politik, melainkan karena kakinya yang tampak bengkak.
Tak lama berselang, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump didiagnosis mengalami chronic venous insufficiency, atau dalam istilah Indonesia dikenal sebagai insufisiensi vena kronis — sebuah kondisi medis yang sebenarnya umum terjadi pada lansia, terutama mereka yang berusia di atas 70 tahun.
Bukan Penyakit Langka, Tapi Tak Boleh Diabaikan
Diagnosa ini disampaikan langsung oleh dokter kepresidenan, Capt. Sean Barbabella, usai Trump menjalani pemeriksaan dengan USG Doppler vena bilateral pada ekstremitas bawah.
“USG Doppler vena bilateral menunjukkan insufisiensi vena kronis, suatu kondisi jinak dan umum, terutama pada individu berusia di atas 70 tahun,” jelas Barbabella.
Chronic venous insufficiency terjadi saat katup vena—yang berfungsi mendorong darah kembali ke jantung—tidak bekerja dengan baik, sehingga darah justru menggenang di kaki. Akibatnya, kaki bisa terlihat membengkak, terasa berat, gatal, atau bahkan mengalami perubahan warna kulit hingga luka kronis jika tak ditangani.
Penyakit ‘Sejuta Lansia’
Menurut para ahli medis, kondisi ini memang bukan sesuatu yang mengejutkan, apalagi jika melihat usia Trump yang kini menginjak 79 tahun dan memiliki riwayat kelebihan berat badan.
“Pada dasarnya ini bukan kondisi yang mengkhawatirkan, dan tidak mengejutkan,” kata Dr. Jeremy Faust, asisten profesor kedokteran darurat di Harvard Medical School kepada CNN.
“Ini bagian normal dari proses penuaan, terutama bagi mereka yang mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas, seperti Presiden Trump. Namun, gejala seperti ini harus tetap diperiksa untuk memastikan tidak terkait kondisi yang lebih serius.”
Risiko dan Gaya Hidup
Dalam laporan medisnya pada April 2025, Trump tercatat memiliki tinggi badan 190 cm dan berat 100 kg, yang menunjukkan kondisi overweight. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko terbesar untuk insufisiensi vena kronis, selain riwayat pembekuan darah, berdiri terlalu lama, dan gaya hidup kurang aktif.
Dr. Matthew Edwards, ketua Departemen Bedah Vaskular di Universitas Wake Forest, menegaskan bahwa walaupun umum, penyakit ini bisa berkembang menjadi lebih serius.
“Kondisi ini sendiri bukanlah sesuatu yang serius, tapi bisa dikaitkan dengan masalah serius, seperti trombosis vena dalam atau luka kronis,” ujarnya kepada BBC.
Pesan untuk Publik: Jangan Abaikan Gejala Ringan
Kabar tentang kondisi Trump menjadi pengingat penting bahwa pembengkakan kaki, perubahan warna kulit, atau nyeri pada betis bukanlah gejala yang boleh diabaikan, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia atau punya gaya hidup sedentari.
Meskipun bukan penyakit yang mematikan, chronic venous insufficiency tetap membutuhkan pengelolaan, baik melalui perubahan gaya hidup, penggunaan stoking kompresi, hingga intervensi medis apabila diperlukan.
Karena seperti Trump, banyak orang baru menyadari kondisi ini saat gejala sudah muncul ke permukaan—secara harfiah.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































