Viral Sekelompok Orang Berpakaian Putih di Puncak Gunung Lawu, Begini Ceritanya

Puncak Gunung Lawu
Viral sekelompok orang berpakaian putih di Puncak Gunung Lawu (tangkap layar)
TIMETODAY.ID Puncak Gunung Lawu kembali jadi sorotan setelah video sekelompok orang berpakaian serba putih viral di media sosial. Video tersebut diunggah seorang pendaki bernama Danang Pratama melalui akun TikTok pribadinya, dan hingga Selasa (15/7/2025) sudah ditonton lebih dari 11 juta kali.
Momen tak biasa itu direkam Danang pada Jumat, 11 Juli 2025. Ia mendaki ke Puncak Lawu dan tiba sekitar pukul 09.30 WIB. Dari kejauhan, Danang melihat rombongan berpakaian putih sedang bersiap-siap di sekitar Tugu Gunung Lawu, salah satu titik ikonik di puncak.
Tak hanya berkumpul, rombongan ini tampak khusyuk membaca Tahlil, doa-doa kejawen, dan menunaikan Sholat Jumat. Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 12.30 WIB.
“Awal lihat agak merinding, tapi aman. Pengalaman yang gak bakal terlupakan di Lawu,” ungkap Danang, menceritakan kesan pertamanya bertemu kelompok berjubah putih di ketinggian.
Menariknya, tanggal 11 Juli bertepatan dengan 1 Suro dalam kalender Jawa, momen yang sering dianggap keramat bagi sebagian penganut spiritual kejawen. Hal ini terungkap melalui unggahan akun X @Jat*** yang ikut membagikan cuplikan video tersebut.
Hingga kini, belum ada kejelasan resmi siapa sebenarnya rombongan berpakaian putih tersebut. Namun di kolom komentar TikTok, muncul berbagai spekulasi dari netizen. Sebagian menyebut mereka sebagai kelompok ‘Scott Street’, sementara lainnya menduga itu adalah pengikut aliran Syahadatain.
“Scott Street sesungguhnya,” tulis akun @ta***.
“Sosok asli Scott Street,” timpal @reh***.
“Buat yang belum tahu, itu namanya aliran Syahadatain,” sahut akun @Kul***.
Di sisi lain, ada juga netizen yang mencoba menjelaskan ritual tersebut dari sudut pandang spiritual. Menurut akun @Ded***, mereka hanya berkumpul untuk memanjatkan doa demi keselamatan di dunia dan akhirat.
“Coba dengarkan apa yang mereka ucapkan, masalah mereka berdoa di gunung itu tidak jadi masalah, karena kita berdoa bisa di mana saja dan kapan saja,” tulisnya.
Ia juga menambahkan alasan mengapa rombongan memilih mengenakan pakaian putih. Menurutnya, “Karena sebaik-baiknya pakaian adalah berwarna putih dan bungkuslah orang yang mati menggunakan kain putih. Kalau sudah selesai ibadah, mereka mengganti pakaian seperti pada umumnya.”
Soal penggunaan bahasa Jawa dalam doa, akun tersebut pun menjelaskan, “Karena Wali 9 itu pusatnya di Cirebon, jadi doanya dan sholawatnya ada yang menggunakan Bahasa Jawa. Tuhan itu universal, bukan karena tidak menggunakan Bahasa Arab, doa tidak akan sampai.”
Fenomena spiritual di Gunung Lawu memang bukan cerita baru. Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah) dengan Ngawi dan Magetan (Jawa Timur) ini dikenal memiliki banyak situs bersejarah dan sering jadi tujuan ziarah.
Terlepas dari kontroversi di media sosial, momen perjumpaan di Puncak Lawu ini jadi pengingat bahwa gunung bukan hanya tempat untuk berpetualang, tetapi juga ruang bagi banyak tradisi dan kepercayaan yang masih lestari hingga sekarang.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Kabupaten Bogor Jadi Tuan Rumah Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di SICC Sentul

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel