Respons Driver Ojol di Bogor Soal Kenaikan Tarif 15 Persen

TIMETODAY.ID, BOGOR – Wacana kenaikan tarif ojek online (ojol) sebesar 15 persen belum dirasakan para pengemudi di lapangan. Hingga kini, driver mengaku belum melihat perubahan pada tarif yang diterima, baik dari pihak aplikator maupun pemerintah.

“Saya nggak bisa bilang tarif naik karena buktinya belum jelas. Kalau memang naik, pasti terlihat di aplikasi,” ujar Irfan (42), salah satu pengemudi ojol di Bogor, saat ditemui pada Rabu (3/7/2025).

“Tadi saya nerima tagihan Rp33 ribu, hasilnya masih Rp88 ribu, sama seperti kemarin-kemarin,” sambungnya.

Advertisement

Menurutnya, jika tarif memang naik, seharusnya berdampak langsung pada peningkatan pendapatan. Namun, ia menyebut tidak ada perubahan signifikan sejauh ini.

“Kalau ada kenaikan, otomatis pendapatan saya lebih tinggi. Tapi ini buktinya nggak ada perubahan,” tambahnya.

Baca Juga :  PELANTIKAN, PENGANGKATAN, PENGAMBILAN SUMPAH/JANJI, DAN PENYERAHAN SK BAGI CPNS, CPNS MENJADI PNS, DAN PPPK DI LINGKUP PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR

Irfan juga menyampaikan keraguannya terhadap janji pemerintah.

“Pemerintah cuma gembar-gembor. Janjinya awal bulan lalu, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” kata dia.

Hal senada disampaikan Wildan (35), pengemudi ojol lainnya. Ia mengatakan bahwa wacana kenaikan tarif masih dalam tahap pembahasan di tingkat Dinas Perhubungan.

“Masih wacana, baru masuk ke Dishub dan masih dibahas. Belum fix,” jelasnya.

Wildan menambahkan bahwa dalam aksi demonstrasi sebelumnya, para driver juga menuntut pengurangan potongan dari pihak aplikator.

“Yang kami perjuangkan itu tarif dan potongan aplikator. Potongannya sekarang besar banget, customer bayar Rp15 ribu, kita cuma terima Rp8 ribu,” ungkapnya.

Ia berharap, jika kenaikan tarif jadi diterapkan, potongan dari aplikator juga ikut diturunkan.

Baca Juga :  Malaysia Jadi Tuan Rumah KTT ASEAN 2025, Timor Leste Siap Bergabung Resmi

“Kalau tarif naik tapi potongannya tetap besar, ya nggak terasa juga. Harapannya sih potongan bisa turun jadi 10 persen,” ujarnya.

Meski menyambut positif rencana kenaikan tarif, Wildan khawatir pelanggan akan beralih ke aplikasi lain dengan tarif lebih murah.

“Saya sih setuju-setuju aja, cuma takutnya nanti customer malah pindah ke aplikasi lain yang tarifnya lebih murah,” ucapnya.

Kedua driver menegaskan bahwa pendapatan mereka sangat bergantung pada kondisi lapangan, bukan semata pada kebijakan tarif.

“Pendapatan kami nggak bisa dipastikan. Kadang pas hujan atau sepi orderan, ya naik-turun juga. Jadi tergantung situasi, bukan dari tarif tetap,” pungkas Irfan.

Editor: B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel