TIMETODAY.ID — Pasar mobil listrik di Indonesia terus bertumbuh pesat. Ragam pilihan pun kini makin beragam—mulai dari merek Jepang, Eropa, hingga China. Namun menariknya, di tengah gempuran nama-nama besar seperti Toyota, Nissan, Mazda, hingga Citroen, justru mobil listrik asal China yang belakangan tampak lebih mendominasi jalanan.
Nama-nama seperti BYD, Wuling, GWM, hingga Aion kini jadi pemain yang paling sering disebut saat membahas mobil listrik dengan harga ramah kantong.
Menurut riset yang dilakukan Populix, kunci larisnya mobil listrik China di pasar domestik terletak pada satu faktor mendasar: harga yang lebih terjangkau.
Dalam laporannya, Populix menyoroti bahwa adopsi mobil listrik di Indonesia sebenarnya masih dalam tahap awal. Dengan kata lain, masyarakat belum terbiasa, sehingga harga menjadi pertimbangan utama.
“Merek Jepang dan Eropa dipandang mahal, menghadapi persaingan yang ketat karena biayanya yang lebih tinggi dan fiturnya lebih sedikit,” tulis Populix dalam risetnya mengutip dari detik.com.
Di sisi lain, pabrikan Jepang memang sudah lebih dulu menggarap pasar mobil listrik Tanah Air. Toyota membawa bZ4X, Nissan dengan Leaf, bahkan Mazda juga mencoba peruntungan di segmen ini. Begitu pula merek Eropa seperti Citroen yang turut meramaikan pasar.
Namun, ada satu benang merah yang membuat konsumen Indonesia ragu: harga jualnya.
Mobil Jepang memang terkenal dengan ketangguhan dan layanan purna jual yang luas. Konsumen pun merasa lebih aman karena ragam modelnya sudah akrab di jalanan. Meski begitu, banderol harga yang relatif tinggi membuat masyarakat menimbang ulang, apalagi untuk teknologi baru seperti kendaraan listrik.
Mobil Eropa? Posisi mereka sedikit berbeda. Umumnya merek Eropa memang membidik segmen premium. Citra mobil mewah membuatnya sering dinilai lebih fokus pada kemewahan ketimbang fungsionalitas harian. Imbasnya, harga pun melambung.
Sementara itu, merek Korea Selatan yang juga mulai menjejaki pasar mobil listrik Tanah Air kerap dianggap menawarkan harga yang mirip mahalnya dengan mobil Jepang—padahal fiturnya dinilai tak jauh berbeda.
Di sinilah mobil listrik China menemukan ceruk pasarnya. Harga lebih miring, pilihan model terus bertambah, dan fitur juga semakin kompetitif. Ditambah lagi, beberapa merek mulai gencar membuka layanan purna jual di berbagai kota besar.
Tak heran, mobil listrik China kini sering jadi alternatif pertama bagi konsumen yang ingin “mencoba” beralih ke kendaraan bebas emisi, tapi belum siap merogoh kocek terlalu dalam.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































