Terungkap! Alasan Mode Pesawat Harus Diaktifkan Menurut Pilot

mode pesawat
ilustrasi mode perawat (istock)
TIMETODAY.ID — Musim liburan selalu datang dengan sejumlah keribetan kecil. Dari urusan mencari paspor yang nyelip entah di mana, mengenakan kembali celana pendek yang sudah setahun terlipat di lemari, hingga memastikan kuku kaki cukup rapi untuk tampil di balik sandal. Namun satu hal yang nyaris tak pernah terlewat adalah pengingat pramugari di kabin pesawat: aktifkan mode pesawat di ponsel Anda.
Sekilas, imbauan ini terdengar sederhana, tapi pernahkah Anda bertanya-tanya, benarkah satu gawai mungil bisa membahayakan burung besi seberat puluhan ton?
Pertanyaan klasik ini kembali muncul ke permukaan. Seorang pilot komersial, Perico Durán, mencoba menjawab rasa penasaran banyak penumpang yang merasa tak masuk akal. Menurutnya, perintah mengaktifkan mode pesawat memang punya alasan, meski bukan berarti ponsel yang aktif bisa membuat pesawat jatuh dari langit.
“Orang-orang pintar berpikir bahwa sesuatu bisa terjadi jika kita tidak mengaktifkan mode pesawat, jadi lakukanlah,” kata Perico memberi saran.
Kekhawatiran akan gangguan sinyal memang bukan isapan jempol belaka. Di masa awal ponsel merajalela, sejumlah bukti teknis sempat membuat industri penerbangan waspada. Tahun 2011 misalnya, kokpit Boeing 737 pernah dilaporkan rentan terhadap gangguan gelombang ponsel yang bisa memengaruhi tampilan instrumen di dashboard pilot.
Walau begitu, Perico menegaskan bahwa potensi gangguan itu tak lantas berarti mesin pesawat bisa mati mendadak atau roda pendaratan gagal keluar. Risiko terbesar justru ada pada sinyal-sinyal yang bisa membuat instrumen menampilkan data palsu atau alarm palsu di momen yang tak tepat.
“Yang mungkin terjadi adalah indikasi palsu dari sesuatu, sebuah gangguan pada momen tertentu,” ungkapnya, dikutip Mirror.
Karena itulah, prosedur keselamatan dibuat seketat mungkin demi menutup kemungkinan risiko, betapapun kecilnya. “Kami memberi tahu orang-orang untuk mengaktifkan mode penerbangan untuk menghindari gangguan,” Perico menegaskan.
Lagi pula, kata dia, mematikan koneksi ponsel hanya perlu beberapa menit di awal penerbangan. Tidak ada kerugian besar dengan melepas ponsel sejenak dari sinyal internet. “Apa bedanya? Hanya sepuluh menit dari ketinggian sepuluh ribu hingga empat belas ribu kaki. Aktifkan mode penerbangan di ponsel Anda dan hindari gangguan. Tidak menggunakan ponsel selama sepuluh menit bukanlah apa-apa,” jelasnya.
Kenyataannya, tidak semua penumpang patuh. Survei Allianz Travel Insurance pada 2017 menemukan 40% warga Amerika tak selalu menyalakan mode pesawat, bahkan hampir 14% terang-terangan mengaku tetap curi-curi mengirim pesan atau menelepon di udara.
Di Amerika Serikat, aturan terbilang tegas. Peraturan Federal mewajibkan semua telepon seluler di pesawat dimatikan sepenuhnya saat pesawat tinggal landas dan mengudara. Namun, di belahan Eropa, kebijakan cenderung lebih longgar. Sejak 2023, penerapan teknologi 5G memungkinkan penumpang maskapai Eropa bebas bertelepon ria di udara, karena frekuensi jaringannya tak lagi mengganggu sistem navigasi pesawat.
Jadi, meski teknologi terus berkembang, imbauan untuk mengaktifkan mode pesawat masih relevan. Mungkin hanya sepuluh menit terputus dari dunia maya, tapi siapa sangka, momen kecil itu bisa berarti banyak bagi keselamatan penerbangan Anda.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Nobar Bareng Teman atau Keluarga? Ini Manfaat Psikologis yang Jarang Disadari

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel