TIMETODAY.ID — Akhir pekan ini, dunia sepak bola akan menyaksikan sebuah laga yang sarat emosi, bukan hanya sekadar pertandingan. Duel Paris Saint-Germain (PSG) melawan Inter Miami di babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi lebih dari sekadar perebutan tiket perempat final. Di dalamnya tersimpan cerita pribadi Lionel Messi—tentang luka lama, pengabaian, dan kesempatan untuk membalas dendam di atas rumput hijau.
Pertandingan akan digelar di Stadion Mercedes Benz, Minggu (29/6) malam, dan semua mata tentu tertuju pada satu nama: Lionel Messi.
Bagi Messi, laga ini bukan hanya tentang mengantar Inter Miami melaju ke babak berikutnya. Ini adalah momen untuk menjawab dengan tindakan apa yang selama ini tak bisa ia ucapkan langsung—kepada PSG, klub yang pernah ia bela selama dua musim, namun dianggap gagal memberinya penghargaan yang pantas.
Messi bergabung dengan PSG pada 2021 usai Barcelona terpuruk dalam krisis keuangan. Dua musim di Paris tak membuahkan kisah manis. Gelar Liga Champions tak pernah datang, dan yang lebih menyakitkan, adalah rasa diabaikan setelah membawa Argentina juara Piala Dunia 2022.
“Saya satu-satunya pemain dari 25 pemain yang tidak mendapat pengakuan [dari klub],” ujar Messi dalam wawancara dengan ESPN, mengenang momen pahit itu.
Kala itu, rekan-rekan setim Messi di berbagai klub dunia disambut meriah oleh klub masing-masing. Tapi tidak di Paris. Di sanalah Messi merasa sendirian, meski baru saja menorehkan salah satu prestasi terbesar dalam sejarah sepak bola: membawa negaranya menjadi juara dunia.
“Itu bisa dimengerti, karena kami [Argentina], mereka [Prancis] tidak mempertahankan Piala Dunia,” kata Messi, mencoba memahami meski jelas ada kecewa yang tertinggal.
Kini, di bawah panji Inter Miami, Messi memiliki panggung untuk menjawab semua itu. Sebuah kesempatan langka untuk “berbicara” melalui performa di lapangan—bukan dengan kata-kata, tapi dengan permainan.
Kemenangan atas PSG akan menjadi semacam kelegaan. Bukan untuk membuktikan siapa yang lebih hebat, tetapi untuk menunjukkan bahwa bahkan rasa sakit bisa menjadi bahan bakar untuk kehebatan yang lebih besar.
Pertandingan ini adalah drama yang sempurna: masa lalu bertemu masa kini, dan seorang legenda hidup sepak bola mencoba menuntaskan bab yang belum selesai dalam hidupnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































