Apa yang Tidak Boleh Dilakukan di Malam 1 Suro? Ini Penjelasan Budaya dan Islamnya

1 Suro
ilustrasi 1 Muharram 1447 H (istock/Heri Mardinal)
TIMETODAY.ID — Setiap tanggal 1 Suro, sebagian masyarakat Jawa menyambutnya dengan suasana penuh khidmat. Bukan sekadar malam pergantian tahun dalam kalender Jawa, malam 1 Suro dipandang sebagai waktu yang sakral—dipenuhi makna spiritual dan nuansa mistis yang kental.
Tahun ini, malam 1 Suro jatuh pada Kamis malam, 26 Juni 2025, bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H, yang juga menjadi tahun baru dalam kalender Islam.
Bagi masyarakat Jawa, malam ini bukan waktu untuk berpesta, melainkan momen kontemplatif untuk menyepi, berdoa, dan melakukan laku spiritual. Tak heran, ada banyak larangan atau hal-hal yang dihindari pada malam 1 Suro. Apa saja?
  1. Menggelar Hajatan
Mengadakan acara besar seperti pernikahan atau pesta di bulan Suro dianggap “pamali”. Momen ini dipandang lebih tepat untuk berintrospeksi diri, bukan merayakan kegembiraan duniawi. Karena itu, banyak keluarga yang sengaja menghindari menggelar hajatan selama bulan ini.
  1. Bertengkar atau Berkonflik
Bulan Suro dipercaya memiliki energi spiritual yang kuat. Karena itu, menjaga ketenangan batin dan hubungan antar sesama sangat ditekankan. Bertengkar, bahkan hanya beradu argumen kecil, dianggap dapat mengganggu keseimbangan energi yang tengah dijaga di malam Suro.
  1. Bepergian Jauh
Masyarakat Jawa meyakini bahwa perjalanan jauh di bulan Suro berpotensi membawa musibah. Mitos tentang kecelakaan atau insiden di perjalanan menjadi alasan mengapa sebagian orang memilih menunda bepergian—baik untuk kerja, liburan, atau bahkan pindahan—hingga bulan Suro berlalu.
  1. Terlalu Sibuk dengan Urusan Duniawi
Bulan Suro bukan waktu untuk sibuk mengejar materi. Tradisi menyarankan untuk memperbanyak puasa, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menikmati hiburan duniawi secara berlebihan dianggap kurang pantas di bulan ini.
  1. Keluar Rumah di Malam Hari
Malam 1 Suro sering dianggap sebagai waktu yang “angker”. Oleh karenanya, masyarakat cenderung memilih berdiam diri di rumah. Keluar rumah malam-malam, apalagi tanpa tujuan yang jelas, dipercaya bisa membawa sial atau mengalami hal-hal di luar nalar.
  1. Berisik atau Berkata Kasar
Tutur kata pun menjadi perhatian khusus. Malam 1 Suro diisi dengan keheningan dan pengendalian diri. Dalam tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng (ritual jalan kaki keliling benteng tanpa bicara di Yogyakarta), nilai diam dan menjaga lisan menjadi simbol utama. Oleh karena itu, berkata kasar atau bersikap gaduh sangat dihindari.
  1. Pindah atau Membangun Rumah
Membangun rumah atau pindah tempat tinggal di malam 1 Suro dianggap mengusik ketenangan spiritual. Masyarakat meyakini bahwa aktivitas besar seperti ini bisa mengundang energi negatif jika dilakukan pada malam sakral tersebut.
Antara Tradisi dan Keyakinan
Perlu diingat, larangan-larangan ini tidak berasal dari ajaran agama Islam, tetapi lebih pada adat dan warisan budaya Jawa. Dalam Islam, bulan Muharram (yang sepadan dengan bulan Suro) justru adalah salah satu dari empat bulan suci yang dimuliakan. Dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, bukan menakuti waktu tertentu.
Namun bagi banyak orang Jawa, malam 1 Suro tetap menjadi momen penting untuk menenangkan jiwa, merenung, dan menjaga harmoni dengan alam dan sesama.
Malam 1 Suro bisa menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dunia modern, masih ada waktu untuk jeda, menunduk sejenak, dan mengenang nilai-nilai spiritual yang diwariskan leluhur. Entah Anda memercayainya sebagai bagian dari budaya, atau hanya menghormati tradisi, malam 1 Suro tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal masyarakat Jawa.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Quesadilla, Hidangan Praktis dengan Keju Lezat ala Meksiko

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel