
TIMETODAY.ID — Langit masih gelap ketika kapal bantuan kemanusiaan Madleen milik Freedom Flotilla Coalition (FFC) mulai dikepung. Tak jauh dari perairan Gaza, 12 orang di kapal itu, termasuk aktivis muda iklim Greta Thunberg, bersiap menghadapi yang tak terhindarkan: kedatangan pasukan Israel.
Pada dini hari itu, perairan internasional bukan lagi tempat netral. Pasukan Israel menyerang kapal Madleen, mengerahkan drone dan mengintimidasi para penumpang. Namun, para aktivis tidak bergeming. Kapal terus melaju, mengusung misi damai: menyalurkan bantuan dan menyuarakan kebebasan untuk Gaza.
Dikepung Tapi Tak Gentar
FFC melaporkan bahwa pasukan Israel menyergap dan merangsek masuk ke kapal. Situasi mencekam, namun para penumpang tetap tenang. Mereka telah mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Di antara mereka, suara lantang datang dari Suayb Ordu, aktivis asal Turki yang telah merekam pesannya sebelum serangan terjadi.
“Jika ada yang menyakiti saya, jika mereka membunuh saya, dan mereka tidak bisa membuktikannya secara visual, ketahuilah bahwa saya tidak melakukan tindakan apa pun,” ujar Ordu dalam video yang diunggah ke Instagram, dikutip dari Anadolu.
“Bahkan jika mereka mengarahkan pistol ke kepala dan menembak, saya tidak akan mengangkat tangan.”
Dalam rekamannya, Ordu menekankan bahwa mereka tidak akan melawan, tidak akan menatap mata prajurit, tidak akan memprovokasi. Semua telah disepakati. Perlawanan mereka adalah damai, dan itu harus terlihat.
“Kami akan mengenakan jaket pelampung, duduk dengan tangan kosong, dan menunggu. Kami tidak akan melakukan tindakan provokatif apa pun. Kami tidak akan bereaksi dengan cara apa pun,” katanya.
Pernyataan ini bukan sekadar skenario. Bagi para aktivis, ini adalah bentuk pembuktian moral, bahwa mereka hadir sebagai pengantar bantuan kemanusiaan, bukan ancaman militer.
Ancaman dan Tuduhan yang Mengintai
Sebelum serangan terjadi, Ordu juga mengungkap bahwa pasukan Israel telah mengancam akan menangkap atau menembaki kapal jika tidak menghentikan pelayaran. Namun, seluruh penumpang menolak tunduk.
“Kami bergerak maju dengan damai dan saya sangat menghormati teman-teman di kapal ini dan keselamatan mereka,” lanjut Ordu.
Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan dirinya dijadikan kambing hitam untuk membenarkan tindakan kekerasan Israel.
“Sebagai orang Turki, saya berpotensi dijadikan kambing hitam,” tegasnya.
Ordu menekankan satu hal penting: jika ada informasi yang menyatakan bahwa para aktivis atau kru terluka karena melawan, maka informasi itu tidak benar.
“Jika ada informasi salah satu dari aktivis dan kru terluka karena melawan, maka berita itu bohong,” tegasnya.
Ketegangan yang Masih Membara
Hingga saat ini, keberadaan para aktivis setelah penyerbuan masih belum diketahui secara pasti. Namun, peristiwa ini menambah catatan panjang tentang penindasan terhadap misi-misi kemanusiaan ke Gaza, dan mempertajam sorotan dunia terhadap blokade serta agresi militer di kawasan tersebut.
Kapal Madleen mungkin telah dihentikan, tapi suara para aktivis di dalamnya tak bisa dibungkam. Keteguhan mereka menyampaikan pesan bahwa kemanusiaan tak mengenal batas negara maupun intimidasi bersenjata.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































