Sehari Berpuasa, Dua Tahun Diampuni: Keajaiban Puasa Arafah

ilustrasi puasa (istock)
TIMETODAY.ID — Besok, 9 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut datangnya Hari Arafah, momen yang istimewa bagi mereka yang tengah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Namun bagi yang tidak berhaji, Hari Arafah tetap menyimpan peluang besar untuk meraih pahala luar biasa—yakni melalui puasa sunah Arafah.
Bukan sekadar ritual, puasa di hari istimewa ini memiliki keutamaan yang begitu besar. Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat betapa besarnya ganjaran yang dijanjikan Allah SWT bagi siapa saja yang berpuasa pada hari Arafah. Bukan satu, melainkan dua tahun dosa yang diampuni—setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.
Tata Cara Puasa Arafah: Niat, Sahur, dan Menjaga Kesucian Ibadah
Seperti halnya puasa lainnya, ibadah ini diawali dengan niat, yang bisa dibaca sejak malam hingga sebelum fajar. Niatnya pun sederhana, namun penuh makna:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Arafah lillahi ta’ala.
“Aku berniat puasa sunah Arafah esok hari karena Allah SWT.”
Atau bila diniatkan di pagi hari sebelum tergelincir matahari:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala.
“Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah ta’ala.”
Setelah niat, sahur sangat dianjurkan meski tidak menjadi syarat sahnya puasa. Sahur mengandung keberkahan, dan menjadi energi spiritual dalam menunaikan ibadah sepanjang hari.
Selama menjalankan puasa, tentu penting untuk menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan seperti makan, minum, atau hubungan suami istri. Namun tak kalah penting adalah menjaga puasa dari hal-hal yang menghilangkan pahalanya, seperti marah, bergunjing, atau berkata kotor.
Dan saat matahari terbenam, menyegerakan berbuka puasa sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW menjadi penutup sempurna dari ibadah harian ini.
Beberapa Hal Penting Terkait Puasa Arafah
  • Boleh berpuasa Arafah meski jatuh di hari Jumat atau Sabtu, karena puasa ini memiliki sebab tersendiri.
  • Dosa yang diampuni adalah dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap membutuhkan taubat nasuha. Namun sebagian ulama seperti Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa Allah juga mengampuni dosa besar melalui puasa ini.
  • Doa-doa pada Hari Arafah sangat mustajab, terlebih bagi mereka yang berpuasa. Maka dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan istighfar.
  • Disunnahkan bertakbir mulai dari Subuh hari Arafah hingga hari tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah).
Penutup: Kesempatan Emas yang Sayang Dilewatkan
Puasa Arafah bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia adalah tentang harapan—bahwa dengan satu hari pengorbanan, Allah berkenan mengampuni dosa-dosa selama dua tahun. Ia juga menjadi momentum untuk memperbarui niat, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Sang Pencipta.
Di tengah kesibukan dunia, jangan lewatkan kesempatan langka ini. Mungkin inilah momen penghapus dosa yang telah lama kita doakan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Mengapa Orang Berpuasa Sering Mengantuk? Ini Penyebab dan Solusinya

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel