TIMETODAY.ID — Di balik sinar matahari yang hangat, tersimpan satu unsur penting yang kini semakin menarik perhatian ilmuwan: vitamin D. Lebih dari sekadar menjaga kesehatan tulang, vitamin D disebut-sebut memiliki peran dalam memperlambat proses penuaan biologis manusia.
Temuan ini mengemuka dari penelitian berskala besar yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Mass General Brigham, lembaga yang berafiliasi dengan Harvard, dan Medical College of Georgia.
Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa suplemen vitamin D dapat memperlambat pemendekan telomer—ujung kromosom yang berfungsi layaknya pelindung DNA.
Telomer selama ini dianggap sebagai indikator penting penuaan seluler. Semakin pendek telomer, semakin tua usia biologis sel tersebut. Dan inilah yang menjadi sorotan utama dari uji coba yang melibatkan lebih dari 25.000 partisipan.
Uji coba acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo ini merupakan bagian dari studi jangka panjang bernama VITAL. Fokus pada aspek telomer dilakukan terhadap sekitar 1.000 peserta, terdiri dari wanita berusia 55 tahun ke atas dan pria berusia 50 tahun ke atas.
Hasilnya, mereka yang rutin mengonsumsi vitamin D mengalami pemendekan telomer yang jauh lebih lambat dibanding kelompok yang menerima plasebo, dalam kurun waktu dua tahun.
“Temuan kami menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D yang ditargetkan mungkin merupakan strategi yang menjanjikan untuk melawan proses penuaan biologis, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan,” ujar Haidong Zhu, ahli genetika molekuler dari Medical College of Georgia, Augusta University.
Para peneliti bahkan memperkirakan, manfaat dari vitamin D dalam memperlambat pemendekan telomer ini setara dengan “menghemat” sekitar tiga tahun proses penuaan biologis.
Meski terdengar menjanjikan, sejumlah ahli mengingatkan untuk tidak terburu-buru menyimpulkan manfaat tersebut sebagai ‘obat awet muda’.
Mary Armanios, profesor onkologi sekaligus Direktur Telomere Center di Johns Hopkins University, mengingatkan bahwa panjang telomer memiliki variasi alami di setiap usia.
“Penambahan dan pengurangan kecil mungkin tidak bermakna secara biologis,” katanya kepada Newsweek. Ia juga mengkritisi metode pengukuran telomer dalam penelitian tersebut yang menggunakan QPCR, yang menurutnya sensitif terhadap perubahan suhu dan persiapan sampel.
Tak hanya itu, latar belakang peserta yang didominasi oleh individu berkulit putih menimbulkan pertanyaan tentang representasi data secara etnis dan keberagaman genetik.
Meski begitu, peran vitamin D dalam mendukung kesehatan secara keseluruhan memang tak terbantahkan. Bahkan, Endocrine Society pada 2024 lalu menyarankan pemberian suplemen vitamin D secara empiris kepada mereka yang berusia 75 tahun ke atas, karena potensinya menurunkan risiko kematian.
Majid Kazemian, profesor dari Purdue University, pernah menyampaikan bahwa vitamin D memengaruhi banyak aspek penting dalam tubuh.
“Kekurangan vitamin D telah dikaitkan dengan banyak penyakit, dan sebagai hormon steroid, vitamin D memengaruhi banyak proses seluler, termasuk efek antiperadangan dan antipenuaan,” ungkapnya.
Penelitian ini menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam memahami bagaimana nutrisi sederhana bisa berdampak pada penuaan manusia. Dan meskipun belum bisa disebut sebagai kunci awet muda, setidaknya vitamin D telah menegaskan dirinya sebagai bagian penting dari puzzle kompleks yang disebut penuaan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































