Trump Larang Mahasiswa Asing Kuliah di Harvard, Ini Dampaknya ke Dunia Pendidikan

Trump
Harvard University's SEVP certification has been revoked.(AFP)
TIMETODAY.ID — Pada sebuah kampus bersejarah di Cambridge, Massachusetts—tempat lahirnya para pemikir besar dunia—ribuan mahasiswa asing terjaga dalam kegelisahan. Mereka bukan sedang mempersiapkan ujian akhir atau tesis kelulusan, melainkan memikirkan nasib mereka sendiri. Sebab, untuk pertama kalinya, Presiden AS Donald Trump secara resmi melarang mahasiswa asing kuliah di Harvard University, dan perintah itu sudah dieksekusi oleh Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS, seperti dilaporkan Reuters.
Perintah Langsung, Dampak Langsung
Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem tak menunggu waktu lama. Perintah itu langsung ditindaklanjuti dengan tekanan kepada Harvard untuk memindahkan para pelajar asing ke kampus lain, atau bersiap menghadapi konsekuensi hukum. Bila tidak, legalitas tinggal mereka di AS terancam dicabut.
Menurut sumber yang sama, ada sekitar 6.800 mahasiswa asing yang kuliah di Harvard untuk tahun ajaran 2025–2026—jumlah ini mencakup 27 persen dari seluruh populasi mahasiswa. Negara asal terbanyak? China. Diikuti oleh India dan Korea Selatan.
China Geram: Pendidikan Jangan Dipolitisasi
Reaksi keras datang dari Kementerian Luar Negeri China. Dalam pernyataannya yang dikutip CNN, juru bicara kementerian menyebut kebijakan ini sebagai langkah politisasi pendidikan yang “akan merusak reputasi global AS”.
“China secara konsisten menentang politisasi dalam dunia pendidikan,” tegasnya. Menurut Beijing, tindakan ini tidak hanya berdampak pada mahasiswa, tetapi juga akan mencederai posisi AS sebagai pusat keunggulan pendidikan tinggi dunia.
Pertaruhan Ganda: Kampus dan Citra Negara
Bagi Harvard, dilema ini bukan sekadar administrasi. Ini menyentuh akar filosofi pendidikan inklusif dan kolaboratif yang telah dibangun selama berabad-abad. Harvard bukan hanya kampus elit; ia adalah simbol keterbukaan ilmu dan pertukaran ide global.
Namun, kebijakan Trump ini, yang diyakini selaras dengan pendekatan kerasnya terhadap imigrasi dan ketegangan geopolitik, menyeret dunia pendidikan ke medan politik luar negeri.
Efek Domino: Dari Visa ke Visi Global
Para pelajar yang terdampak berasal dari negara-negara dengan pertumbuhan tercepat di Asia: China, India, dan Korea Selatan. Tiga negara yang kini disebut-sebut sebagai lokomotif ekonomi Asia, juga merupakan pusat inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan baru.
Menariknya, justru mahasiswa dari negara-negara inilah yang paling banyak mengisi ruang-ruang kelas Harvard dan berkontribusi pada proyek-proyek riset berskala global.
Kini, mereka dihadapkan pada pilihan getir: meninggalkan impian yang dibangun sejak lama atau berpindah ke negara lain yang lebih ramah pada ilmu pengetahuan lintas batas.
Kesimpulan: Ketika Pendidikan Dijadikan Alat Politik
Kebijakan Trump ini sekali lagi memperlihatkan bagaimana nasionalisme ekstrem dapat beradu tajam dengan nilai-nilai universalisme akademik. Harvard, sebagai simbol pendidikan tinggi dunia, kini berada di persimpangan: bertahan dengan nilai globalismenya, atau tunduk pada tekanan domestik yang mengedepankan isolasi.
Sementara itu, para mahasiswa—yang seharusnya fokus pada mimpi dan inovasi—dipaksa berhadapan dengan kenyataan pahit: politik bisa menghancurkan ruang belajar sebelum kelas dimulai.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Armada Pasifik AS Terlibat Dua Kecelakaan di Laut Cina Selatan, Investigasi Dimulai

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel