TIMETODAY.ID — Kita semua pasti pernah mengalaminya: perut terasa penuh seperti balon, dan kentut yang datang tanpa aba-aba. Meski sering dianggap sepele, perut kembung dan sering buang gas bisa jadi sinyal bahwa sistem pencernaan sedang “protes”.
Gas dalam perut memang normal—hasil samping dari kerja keras sistem pencernaan. Tapi kalau jumlahnya berlebihan, bisa membuat kita tidak nyaman, sulit fokus, bahkan malu di tempat umum. Yuk, kenali penyebab umum di balik keluhan ini.
-
Intoleransi Makanan: Tubuh Tak Mampu “Mencerna” Beberapa Makanan
Pernah merasa begah setelah minum susu atau makan roti? Bisa jadi tubuhmu tidak cocok dengan kandungan tertentu.
-
Intoleransi Laktosa: Tubuh kekurangan enzim laktase untuk mencerna laktosa dalam produk susu. Hasilnya? Kembung, mual, bahkan diare.
Solusi cepat: Konsumsi produk bebas laktosa atau suplemen enzim laktase seperti Lactaid.
-
Intoleransi Gluten (Non-Celiac): Sensitif terhadap protein dalam gandum bisa menimbulkan gejala seperti perut tidak enak, diare, hingga gangguan konsentrasi.
Selain itu, zat tambahan seperti pewarna, pemanis buatan, dan MSG, serta makanan tinggi FODMAP (seperti brokoli, bawang, dan kacang-kacangan), juga sering bikin gas menumpuk di perut.
-
Sembelit: Ketika Perjalanan Tinja Terlalu Lama
Saat buang air besar tersendat, sisa makanan yang mengendap terlalu lama akan diurai oleh bakteri dan menghasilkan gas.
Ciri-cirinya:
-
Buang air besar < 3x seminggu
-
Tinja keras seperti batu kecil
-
Rasa tidak tuntas setelah ke belakang
-
Kebiasaan Makan yang Terlalu “Grusa-grusu”
Menelan udara tanpa sadar bisa menyebabkan perut kembung. Ini sering terjadi saat:
-
Makan terburu-buru
-
Makan sambil bicara
-
Mengunyah permen karet
Selain itu, porsi makan terlalu besar dan kurang mengunyah bisa membuat pencernaan bekerja lebih keras dan memicu gas.
-
Irritable Bowel Syndrome (IBS): Pencernaan Sensitif
IBS adalah gangguan pencernaan kronis yang cukup umum, dengan gejala:
-
Kembung
-
Gas berlebih
-
Kram perut
-
Sembelit atau diare
IBS diduga berkaitan dengan stres dan gangguan komunikasi antara otak dan usus.
-
SIBO: Bakteri “Numpang Tinggal” di Usus Halus
Small Intestinal Bacterial Overgrowth terjadi saat bakteri berkembang biak di tempat yang salah—di usus halus.
Gejalanya mirip IBS:
-
Perut terasa penuh
-
Gas tak tertahankan
-
Mual
-
Gangguan Pergerakan Usus (Motility Disorders)
Jika sistem saraf usus terganggu, makanan bisa tertahan terlalu lama. Akibatnya: gas makin banyak.
Gejalanya bisa berupa:
-
Mual
-
Perut begah
-
Susah buang air besar
-
Siklus Menstruasi: Hormonal Tapi Nyata
Bagi sebagian wanita, kembung dan kentut berlebih adalah bagian dari sindrom pramenstruasi. Hal ini disebabkan perubahan hormon yang memengaruhi kerja usus.
-
Visceral Hypersensitivity: Usus Terlalu Sensitif
Kadang, bukan jumlah gas yang banyak, tapi tubuh yang terlalu peka. Ini umum pada penderita IBS atau mereka yang sedang stres berat.
Kesimpulan: Dengarkan “Suara” dari Perutmu
Kalau perut kembung dan sering kentut terjadi hanya sesekali, mungkin tak perlu khawatir. Tapi kalau keluhan ini terus muncul, disertai nyeri, perubahan pola BAB, atau menurunkan kualitas hidup, ada baiknya berkonsultasi ke dokter.
Karena pada akhirnya, kenyamanan pencernaan adalah kunci untuk produktivitas dan rasa percaya diri. Jangan tunggu sampai perut benar-benar “berontak”.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































