Dukung Anak Tanpa Menekan: Empat Kalimat yang Sebaiknya Tak Diucapkan Orang Tua

orang tua
ilustrasi (istock)
TIMETODAY.ID — Tak sekadar memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak jauh lebih kompleks. Dukungan emosional menjadi salah satu fondasi utama yang tak kalah penting dalam membentuk masa depan anak. Dan percaya atau tidak, semua itu bisa dimulai dari hal paling sederhana: kata-kata yang diucapkan sehari-hari.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ucapan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan karakter anak. Kalimat-kalimat yang membangun bisa menjadi bahan bakar semangat dan rasa percaya diri anak. Sebaliknya, ucapan yang tanpa disadari menjatuhkan, bisa melemahkan motivasi dan menghambat kemandirian mereka.
Dalam bukunya Raising an Entrepreneur: How to Help Your Children Achieve Their Dream, Margot Machol Bisnow menyampaikan bahwa orang tua perlu berhati-hati dalam memilih kata-kata. Kepada CNBC Make It, ia mengungkap empat kalimat yang sebaiknya tidak dilontarkan kepada anak. Berikut penjelasannya:
1. “Kalau nilaimu bagus, ayah/ibu kasih uang.”
Meski terdengar seperti motivasi, kalimat ini justru bisa mematikan rasa ingin tahu dan semangat belajar anak. Terlalu fokus pada imbalan atas nilai akademis membuat anak belajar demi hadiah, bukan demi pemahaman. Alih-alih mengejar proses, anak akan terbiasa dengan budaya transaksional.
Orang tua sebaiknya menunjukkan apresiasi terhadap berbagai pencapaian anak—termasuk keberanian mencoba hal baru, ketekunan, dan kemampuan menyelesaikan tantangan, bukan hanya nilai di rapor.
2. “Kamu nggak boleh main kalau nilai belum naik.”
Waktu bermain kerap dikorbankan atas nama akademis. Padahal, bermain bukan sekadar bersenang-senang. Bagi anak, itu adalah cara penting untuk belajar bersosialisasi, memahami aturan, serta mengambil keputusan.
Mendukung prestasi akademik memang penting, tapi menyeimbangkannya dengan waktu bermain jauh lebih berdampak bagi perkembangan emosional dan sosial mereka.
3. “Ayah/ibu tidak percaya kamu, jadi PR kamu dicek dan dibetulkan kalau ada yang salah.”
Kalimat ini secara tidak langsung menyampaikan bahwa anak tidak bisa dipercaya untuk bertanggung jawab atas tugasnya sendiri. Padahal, rasa percaya dari orang tua adalah kunci penting agar anak tumbuh percaya diri.
Kisah pengusaha John Arrow bisa jadi pelajaran. Saat kecil, ia sempat mengalami kesalahan saat mengurus koran sekolah. Tapi orang tuanya tak langsung turun tangan membenahi. Mereka membiarkan John belajar dari pengalaman, dan hasilnya: kepercayaan diri serta rasa tanggung jawab yang kuat ikut terbentuk.
4. “Ayah/ibu memberi tambahan uang saku supaya kamu bisa membeli apapun yang kamu mau.”
Memberi uang saku memang perlu, tetapi jika dilakukan tanpa kontrol dan pengertian, bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang konsumtif dan sulit mengelola keinginan. Anak yang terbiasa ‘langsung dapat’ berisiko menjadi kurang mandiri dan mudah frustrasi saat keinginannya tak terpenuhi.
Lebih baik, ajarkan anak pentingnya mengatur keuangan sejak dini—tentang menabung, membuat prioritas, serta menghargai nilai dari usaha.
Menghindari empat kalimat ini bukan berarti membatasi, tetapi justru membuka ruang bagi anak untuk tumbuh dengan lebih utuh—menjadi pribadi yang sukses secara akademis, mandiri secara emosional, dan siap menghadapi tantangan hidup dengan kepala tegak.
Karena kata-kata orang tua adalah benih yang akan tumbuh di dalam hati anak-anaknya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Ujian Nasional 2025: Kapan Dilaksanakan dan Mengapa PGSI Menentang?

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel