
TIMETODAY.ID, BOGOR – Di balik bau menyengat yang menusuk hidung dan tumpukan sampah yang tak berujung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor ada kisah perjuangan hidup yang jarang terungkap. Di sana, ratusan pemulung mencari nafkah untuk sekadar menambal hidup.
Salah satu sosok yang bertahan di sana adalah Abah Uti, pria berusia 63 tahun yang telah mengabdikan hampir separuh hidupnya sebagai pemulung. Lebih dari satu dekade lamanya ia menggali nilai rupiah dari tumpukan sampah, bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan yang memaksanya.
Dengan suara lembut, Abah Uti berkisah, sejak sekitar 13 tahun lalu, penyakit di kakinya mulai menggerogoti kekuatannya, membuat ia tak mampu bekerja seperti dulu.
“Saya sudah hampir 13 tahun memulung karena punya penyakit di kaki. Kalau istri saya malah sejak TPA ini dibuka,” ujarnya sembari menunjuk ke sisi tempat sampah yang sama yang selama ini menjadi ladang nafkah keluarganya.
Setiap hari, bersama istrinya, Abah Uti memilah barang-barang bekas yang masih bisa dijual. Kardus, botol plastik, besi tua, dan berbagai benda yang bagi sebagian orang adalah sampah. Dari hasil memilah dan menjual barang rongsokan itu, Abah Uti bisa membawa pulang penghasilan antara Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari.
“Yang penting cukup buat dapur saja,” lirih Abah Uti,
Hasil itu memang jauh dari kata besar. Namun, bagi keluarganya, itu sudah cukup untuk mengisi perut dan memastikan ketiga anaknya yang masih sekolah bisa bertahan.
Namun, pekerjaan ini tak lepas dari risiko. Sakit yang mendera kaki Abah Uti tak kunjung hilang, dan sering kali ia harus menghadapi gangguan pernapasan akibat debu dan bau busuk yang tak henti mengepung. Bantuan kesehatan memang kadang datang, tapi tak pernah rutin.
“Kadang ada perhatian, dari Puskesmas atau pihak Kabupaten, tapi tidak rutin,” keluhnya.
Meski serba kekurangan, Abah Uti memilih bertahan. Memulung bukan hanya soal mencari uang, tapi sebuah perjuangan agar anak-anaknya bisa melangkah lebih baik dari dirinya.
“Usaha ini satu-satunya yang saya punya. Sehari paling bisa dapat tiga sampai empat karung,” tuturnya sambil mengangkat sekarung barang rongsokan yang akan segera dijual.
Editor : B. Supriyadi
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































