Tuberkulosis Masih Jadi Ancaman, 0,5 Persen Penduduk Kabupaten Bogor Terinfeksi TBC Paru

Tuberkulosis
Ilustrasi/freepik.com

TIMETODAY.ID, BOGOR – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok kesehatan masyarakat di Kabupaten Bogor. Sepanjang tahun 2024, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat 28.496 kasus positif TBC paru. Angka ini bukan sekadar statistik, ini menggambarkan seberapa luas penyebaran penyakit menular yang kerap luput dari perhatian publik ini.

Dalam wawancara khusus bersama timetoday.id, Senin (19/5/2025) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Adang Mulyana, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil dari pemeriksaan terhadap 101.555 orang yang terindikasi TBC. Dari jumlah itu, sekitar 28 persen dinyatakan positif, atau setara dengan 0,5 persen dari total populasi Kabupaten Bogor.

“Yang diperiksa berjumlah 101.555 terduga, yang positif TB Paru 28.496—sekitar 28 persen, atau sekitar 0,5 persen dari penduduk Kabupaten Bogor,” kata Adang saat ditemui di kantornya, Senin (19/5/2025).

Meski jumlah kasus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, Dinkes melihat sisi positif dari tren ini. Menurut Adang, hal tersebut mencerminkan keberhasilan perluasan cakupan deteksi dini melalui skrining aktif di masyarakat.

“Kalau kasus yang ditemukan naik, itu bukan berarti kita gagal. Justru ini menunjukkan kita lebih agresif dalam mencari dan menemukan kasus. Yang penting adalah persentase positifnya dari jumlah terduga yang diperiksa itu turun. Ini artinya, kita lebih cepat mengintervensi sebelum penyakit menyebar lebih luas,” jelasnya.

Penyakit Lama, Ancaman Nyata

Tuberkulosis bukan penyakit baru, namun hingga kini tetap menjadi ancaman serius.

Penyebab utamanya adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang paling sering menyerang paru-paru. Penyakit ini menular melalui percikan air liur (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau meludah, faktor yang membuatnya mudah menyebar, terutama di wilayah padat penduduk.

“Karena penularannya melalui udara, maka kesadaran masyarakat sangat penting. Kita selalu tekankan pentingnya etika batuk, penggunaan masker, dan pengobatan yang tuntas,” ujar Adang.

Menurutnya, masih banyak pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena merasa sudah sembuh. Padahal, bakteri TBC yang belum benar-benar hilang bisa kembali aktif dan menjadi resisten terhadap obat.

“Pengobatan TBC itu minimal enam bulan, dan harus tuntas. Kalau tidak, bisa jadi TBC resistan yang jauh lebih sulit ditangani. Ini yang sedang kami edukasikan terus di lapangan,” tegasnya.

Tantangan Sosial dan Stigma

Selain aspek medis, Adang mengakui bahwa tantangan terbesar dalam penanggulangan TBC adalah stigma sosial. Banyak penderita yang enggan memeriksakan diri atau terbuka tentang kondisinya karena takut dikucilkan.

“Padahal, TBC bisa disembuhkan. Tapi karena stigma, banyak yang memilih diam, bahkan menghindar dari pemeriksaan. Ini yang membuat penularan terus terjadi diam-diam,” imbuhnya.

Untuk itu, Dinkes Kabupaten Bogor terus menggencarkan edukasi publik melalui puskesmas, kader kesehatan, dan kolaborasi dengan tokoh masyarakat.

Skrining Masif dan Penguatan Layanan

Ke depan, Dinkes menargetkan cakupan skrining yang lebih luas, khususnya di wilayah padat penduduk dan kelompok rentan. Strategi yang diusung tidak hanya berfokus pada deteksi, tapi juga pendampingan pasien agar pengobatan berlangsung secara tuntas.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu peran aktif dari masyarakat, tenaga kesehatan, dan tentu saja keluarga pasien. Semua harus bergerak bersama,” tutup Adang.

Editor : B. Supriyadi

Baca Juga :  DBD di Kabupaten Bogor Tembus 550 Kasus, 3 Meninggal Dunia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel