“Normal” di China, Tapi Aneh di Indonesia: Kisah Melisa Novianti Soal Hidup di Negeri Tirai Bambu

China
China (istockphoto)

TIMETODAY.ID — Perkembangan pesat China di bidang ekonomi dan teknologi bukan lagi rahasia. Negeri Tirai Bambu itu kini menjelma menjadi salah satu negara maju, dengan berbagai terobosan futuristik yang mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Hal ini dibagikan langsung oleh seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Melisa Novianti. Melalui akun Instagram pribadinya, @melisanovianti, ia membagikan sejumlah perbedaan mencolok antara kehidupan di China dan di Indonesia—yang bagi sebagian orang Indonesia mungkin terdengar aneh, tapi di sana justru dianggap hal biasa.

Seragam Celana dan TK Belajar Robotik

Melisa mengawali dengan membandingkan dunia pendidikan. Di China, terutama di kota seperti Shenzhen, siswi sekolah rata-rata mengenakan seragam celana panjang, bukan rok seperti yang umum di Indonesia. Menariknya, anak-anak taman kanak-kanak di sana sudah dikenalkan dengan keterampilan rumah tangga seperti memasak, bahkan mulai belajar coding dan robotika dasar.

Advertisement

“Anak-anak TK udah diajarin bikin robot mini dan praktek masak,” tulisnya.

Minat Baca Dibentuk Lewat Toko Buku Futuristik

Kesadaran literasi di China juga tampak lewat desain toko-toko bukunya yang futuristik dan menarik. Desain interior yang unik ini bertujuan menarik masyarakat untuk datang dan menikmati pengalaman membaca, bukan sekadar membeli buku.

Baca Juga :  Waktu dan Cara Melaksanakan Salat Nisfu Syaban 2024

Bayar Pakai Wajah, Mobil Pakai Bulu Pink

Dari sisi teknologi, China juga selangkah lebih maju. Dalam pameran mobil, Melisa menunjukkan mobil konsep dari Great Wall Motors yang dilapisi bulu warna pink—pemandangan yang mungkin dianggap aneh di Indonesia, tapi wajar di sana.

Selain itu, gaya hidup cashless sudah menjadi norma. Warga lokal tak perlu lagi membawa dompet atau ponsel, karena cukup menggunakan wajah atau telapak tangan untuk membayar berbagai transaksi.

“Bayar pakai muka atau tangan, nggak perlu HP,” jelasnya.

Cara Dagang Unik: Teriak Lewat Speaker dan Ambil Udang Sendiri

Melisa juga mengamati gaya berdagang yang unik di China. Para pedagang mempromosikan dagangannya lewat speaker dengan suara kencang, seolah sedang menjadi MC konser. Bahkan, beberapa penjual seafood membiarkan pembeli mengambil udang hidup langsung dari kolam.

“Semangka cuma 9.9 RMB! Beli satu nyesel, nggak beli lebih nyesel!” ujar salah satu pedagang lewat speaker.

Bioskop Tanpa Popcorn Asin & Parkir Super Mahal

Ada juga hal-hal kecil yang mengejutkan, seperti bioskop yang hanya menyediakan popcorn rasa karamel—tanpa varian asin. Untuk urusan parkir, harganya pun cukup mencengangkan. Di kota-kota besar, biaya parkir mobil bisa mencapai 15 RMB (sekitar Rp34 ribu) per jam.

Baca Juga :  Kontroversi Penjualan Chip Nvidia ke China, CEO Anthropic Angkat Bicara

Toilet Tanpa Semprotan, dan Gaya Liburan yang Berbeda

Dalam hal kebersihan pribadi, toilet umum di China umumnya tidak dilengkapi jet washer. Tisu toilet pun kadang harus dibeli sendiri. Sementara itu, gaya hidup masyarakat saat akhir pekan juga berbeda. Warga China lebih suka kegiatan outdoor bersama keluarga dibanding jalan-jalan ke mall.

Tahu Busuk Jadi Camilan Favorit

Dan terakhir, Melisa mengungkapkan bahwa camilan favorit banyak orang di China adalah Chou Doufu alias tahu busuk. Meski aromanya menyengat, rasa tahu ini ternyata digemari banyak orang—termasuk Melisa sendiri setelah mencoba.

“Awalnya takut, tapi ternyata enak dan bikin nagih,” katanya.

Kesimpulan:
Lewat unggahan-unggahan ringannya, Melisa tidak hanya membagikan cerita pribadi, tetapi juga membuka wawasan kita bahwa “normal” bisa sangat berbeda tergantung budaya dan kemajuan teknologi. Apa yang terasa aneh bagi kita, bisa jadi adalah masa depan yang sedang dijalani orang lain.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel