Biaya Tinggi dan Kualitas SDM Lemah Hambat Daya Saing Ekonomi Indonesia

daya saing ekonomi Indonesia
Ilustrasi/freepik.com

TIMETODAY.ID, JAKARTA – Tingginya biaya investasi dan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi hambatan utama dalam meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

Hal ini diperparah oleh faktor-faktor seperti suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih tinggi dan praktik premanisme di lapangan, baik yang dilakukan oleh aparat maupun preman.

Menurut Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, Indonesia kini dihadapkan pada kondisi sebagai negara dengan ekonomi berbiaya tinggi.

“Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi berbiaya tinggi (high-cost economy), sehingga minat investor untuk menanamkan modal di dalam negeri menjadi rendah,” ujarnya, dikutip dari beritasatu.com, Selasa (13/5/2025).

Nailul menjelaskan bahwa selain suku bunga tinggi, tingginya biaya investasi juga disebabkan oleh pungutan liar yang kerap muncul dalam proses perizinan.

“Biaya itu seharusnya tidak ada, tetapi tetap harus dikeluarkan sebagai bagian dari proses perizinan tidak resmi,” ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa tingginya biaya investasi ini berkontribusi pada tingginya nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia, yang menunjukkan rendahnya efisiensi ekonomi nasional dibandingkan negara tetangga.

“Nilai investasi yang harus dikeluarkan di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga, menandakan efisiensi kita masih rendah,” lanjut Nailul.

Nailul juga menyoroti praktik pungli dan premanisme yang semakin mengurangi minat investor asing.

“Ketika ketertiban hukum tidak ditegakkan, kepercayaan investor akan menurun drastis. Ketika premanisme dibiarkan, pemerintah Indonesia justru kalah oleh preman. Banyak investor akhirnya memutuskan untuk mundur,” tegasnya.

Selain masalah biaya, kualitas SDM juga menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Indeks Modal Manusia (Human Capital Index) Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

“Banyak perusahaan teknologi global kini memilih Vietnam dan Malaysia sebagai tujuan investasi, bukan Indonesia,” pungkas Nailul.

Editor : B. Supriyadi

Baca Juga :  Polisi Dalami Kasus Dugaan Pungli Ojek Pangkalan di Puncak Bogor 

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel