Mitos Makanan Pemicu Jerawat: Fakta atau Hanya Spekulasi?

mitos
ilustasi jerawat (istock)
TIMETODAY.ID — masalah kulit sejuta umat. Mulai dari remaja yang baru puber sampai orang dewasa dengan rutinitas padat, semua bisa mengalaminya. Tak heran, topik ini jadi lahan subur berkembangnya mitos, terutama soal makanan pemicu jerawat.
Banyak yang langsung menuding makanan tertentu sebagai biang kerok munculnya jerawat. Tapi, benarkah semua anggapan itu terbukti secara ilmiah? Yuk, kita luruskan beberapa mitos populer berikut ini.
1. Cokelat bikin jerawatan? Tidak sepenuhnya benar.
Para penggemar cokelat boleh bernapas lega. Meski beberapa studi sempat mengaitkan konsumsi cokelat dengan timbulnya jerawat, hasilnya masih simpang siur dan belum bisa dijadikan kesimpulan bulat. Yang patut dicurigai justru kandungan gula dan susu dalam cokelat olahan. Jadi, kalau kulit mulai ‘berulah’ usai makan cokelat, coba pilih dark chocolate yang kandungan gulanya lebih rendah.
2. Produk susu dituding memperparah jerawat
Hubungan antara susu, terutama susu skim, dengan jerawat masih jadi bahan diskusi di dunia medis. Ada dugaan bahwa konsumsi susu dapat memengaruhi hormon tertentu yang memperburuk kondisi kulit. Namun, bukti ilmiahnya belum cukup kuat. Kalau merasa kulit makin sensitif setelah mengonsumsi produk susu, tidak ada salahnya konsultasi ke ahli gizi.
3. Gorengan dan makanan berminyak: tertuduh yang belum terbukti
Selama ini gorengan dan makanan berlemak sering kali jadi kambing hitam jerawat. Padahal, tak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut. Yang jelas, pola makan tinggi lemak jenuh dan rendah serat memang dapat memicu peradangan tubuh secara umum. Selain itu, tangan berminyak yang menyentuh wajah lebih berpotensi menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat.
4. Diet bebas gluten tak otomatis bikin kulit lebih bersih
Menghindari gluten tanpa alasan medis seperti celiac bisa jadi malah merugikan. Tak hanya berpotensi menurunkan asupan nutrisi, stres karena pantangan berlebihan juga bisa memengaruhi kondisi kulit. Intinya, tak perlu ikut-ikutan tren diet tanpa gluten jika tidak ada indikasi medis. Fokus saja pada pola makan seimbang dan bergizi.
Kesimpulannya? Tak semua makanan yang dituding sebagai penyebab jerawat benar-benar bersalah. Setiap orang memiliki respons tubuh yang berbeda-beda. Yang paling penting adalah mengenali reaksi kulit masing-masing, menjaga pola makan sehat, dan tak mudah percaya pada mitos yang belum terbukti.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Jangan Asal Simpan, Ini Lama Susu Formula Bertahan Setelah Dibuat

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel