TIMETODAY.ID — Hari Raya Waisak bukan hanya menjadi perayaan spiritual umat Buddha di Indonesia, tetapi juga momen penuh kehangatan, kebersamaan, dan tentu saja kelezatan kuliner tradisional.
Di balik setiap sajian yang dihidangkan, tersimpan filosofi dan nilai budaya yang dalam. Tak sekadar memanjakan lidah, makanan-makanan ini juga menjadi cermin kehidupan yang dijalani dengan kesederhanaan, syukur, dan cinta kasih.
Berikut sembilan makanan khas yang sering dihidangkan saat perayaan Waisak, lengkap dengan makna budaya yang menyertainya:
1. Bubur Abang dan Bubur Putih
Dua warna yang berbeda, tapi saling melengkapi. Bubur abang (merah) dan bubur putih merupakan simbol keseimbangan antara unsur api dan air, antara raga dan jiwa. Bubur abang dimasak dengan gula merah yang manis, sedangkan bubur putih menggunakan santan yang gurih dan lembut. Perpaduan ini menggambarkan harmoni hidup yang selaras.
2. Kue Dadar Gulung
Hijau dari daun pandan, isian manis dari kelapa dan gula merah—kue ini sederhana, tapi mengandung filosofi mendalam. Dadar gulung melambangkan keutuhan keluarga dan kehangatan komunitas. Disantap bersama, ia menjadi pengingat tentang pentingnya kebersamaan.
3. Nasi Kuning
Warna kuning keemasan dari nasi ini melambangkan kemakmuran, keberuntungan, dan rasa syukur. Biasanya disajikan dengan ayam, telur, dan sambal, nasi kuning menjadi bentuk ucapan terima kasih atas berkah yang telah diterima.
4. Lontong Sayur
Hidangan yang menggambarkan keberagaman dan toleransi. Lontong yang dibalut daun pisang disajikan dengan sayur labu siam, tahu, tempe, dan telur. Kombinasi ini merepresentasikan kebersamaan dalam perbedaan, sesuai semangat Waisak yang menjunjung kasih sayang universal.
5. Manisan Buah
Buah-buahan yang diawetkan menjadi manisan mencerminkan penghargaan terhadap alam dan sumber daya yang diberikannya. Manisnya buah menggambarkan harapan akan masa depan yang cerah, sekaligus mengingatkan agar kita tidak lupa bersyukur dalam kesederhanaan.
6. Tempoyak
Makanan khas Palembang ini terbuat dari durian fermentasi, dicampur bumbu-bumbu khas yang kuat. Rasanya unik—asam, pedas, dan gurih. Tempoyak biasanya disantap bersama keluarga, menjadi simbol kehangatan dan keterikatan batin antaranggota keluarga saat Waisak.
7. Nasi Gemuk
Hidangan tradisional Jambi yang mirip nasi uduk ini dimasak dengan santan dan rempah-rempah. Nasi gemuk melambangkan kemakmuran dalam kesederhanaan. Disajikan dengan telur, ayam, dan sambal, makanan ini menjadi bagian dari tradisi Waisak yang menyatukan.
8. Kue Burgo
Dari Palembang, kue burgo hadir dengan tekstur lembut dan kuah santan gurih. Dibuat dari tepung beras yang digulung tipis, burgo menjadi simbol dari kebijaksanaan dalam menerima hidup dengan lapang dada, apa adanya.
9. Nasi Lesah
Khas dari Magelang, nasi lesah tampil menyerupai soto dengan kuah santan kekuningan. Rasanya segar dan gurih, biasa disajikan di sekitar Candi Borobudur saat Waisak. Makanan ini menjadi pelengkap momen reflektif dan meditasi di hari suci.
Setiap sajian khas Waisak ini bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang warisan, identitas, dan kebajikan yang dijunjung tinggi. Di tengah lilin-lilin yang menyala dan doa-doa yang dipanjatkan, makanan-makanan ini mengikat makna spiritual dengan keseharian yang membumi.
Karena di Hari Waisak, tidak hanya jiwa yang dipenuhi cahaya, tetapi juga hati yang diberi kehangatan lewat sepiring kenangan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel
TIMETODAY.ID — Hari Raya Waisak bukan hanya menjadi perayaan spiritual umat Buddha di Indonesia, tetapi juga momen penuh kehangatan, kebersamaan, dan tentu saja kelezatan kuliner tradisional.
Di balik setiap sajian yang dihidangkan, tersimpan filosofi dan nilai budaya yang dalam. Tak sekadar memanjakan lidah, makanan-makanan ini juga menjadi cermin kehidupan yang dijalani dengan kesederhanaan, syukur, dan cinta kasih.
Berikut sembilan makanan khas yang sering dihidangkan saat perayaan Waisak, lengkap dengan makna budaya yang menyertainya:
1. Bubur Abang dan Bubur Putih
Dua warna yang berbeda, tapi saling melengkapi. Bubur abang (merah) dan bubur putih merupakan simbol keseimbangan antara unsur api dan air, antara raga dan jiwa. Bubur abang dimasak dengan gula merah yang manis, sedangkan bubur putih menggunakan santan yang gurih dan lembut. Perpaduan ini menggambarkan harmoni hidup yang selaras.
2. Kue Dadar Gulung
Hijau dari daun pandan, isian manis dari kelapa dan gula merah—kue ini sederhana, tapi mengandung filosofi mendalam. Dadar gulung melambangkan keutuhan keluarga dan kehangatan komunitas. Disantap bersama, ia menjadi pengingat tentang pentingnya kebersamaan.
3. Nasi Kuning
Warna kuning keemasan dari nasi ini melambangkan kemakmuran, keberuntungan, dan rasa syukur. Biasanya disajikan dengan ayam, telur, dan sambal, nasi kuning menjadi bentuk ucapan terima kasih atas berkah yang telah diterima.
4. Lontong Sayur
Hidangan yang menggambarkan keberagaman dan toleransi. Lontong yang dibalut daun pisang disajikan dengan sayur labu siam, tahu, tempe, dan telur. Kombinasi ini merepresentasikan kebersamaan dalam perbedaan, sesuai semangat Waisak yang menjunjung kasih sayang universal.
5. Manisan Buah
Buah-buahan yang diawetkan menjadi manisan mencerminkan penghargaan terhadap alam dan sumber daya yang diberikannya. Manisnya buah menggambarkan harapan akan masa depan yang cerah, sekaligus mengingatkan agar kita tidak lupa bersyukur dalam kesederhanaan.
6. Tempoyak
Makanan khas Palembang ini terbuat dari durian fermentasi, dicampur bumbu-bumbu khas yang kuat. Rasanya unik—asam, pedas, dan gurih. Tempoyak biasanya disantap bersama keluarga, menjadi simbol kehangatan dan keterikatan batin antaranggota keluarga saat Waisak.
7. Nasi Gemuk
Hidangan tradisional Jambi yang mirip nasi uduk ini dimasak dengan santan dan rempah-rempah. Nasi gemuk melambangkan kemakmuran dalam kesederhanaan. Disajikan dengan telur, ayam, dan sambal, makanan ini menjadi bagian dari tradisi Waisak yang menyatukan.
8. Kue Burgo
Dari Palembang, kue burgo hadir dengan tekstur lembut dan kuah santan gurih. Dibuat dari tepung beras yang digulung tipis, burgo menjadi simbol dari kebijaksanaan dalam menerima hidup dengan lapang dada, apa adanya.
9. Nasi Lesah
Khas dari Magelang, nasi lesah tampil menyerupai soto dengan kuah santan kekuningan. Rasanya segar dan gurih, biasa disajikan di sekitar Candi Borobudur saat Waisak. Makanan ini menjadi pelengkap momen reflektif dan meditasi di hari suci.
Setiap sajian khas Waisak ini bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang warisan, identitas, dan kebajikan yang dijunjung tinggi. Di tengah lilin-lilin yang menyala dan doa-doa yang dipanjatkan, makanan-makanan ini mengikat makna spiritual dengan keseharian yang membumi.
Karena di Hari Waisak, tidak hanya jiwa yang dipenuhi cahaya, tetapi juga hati yang diberi kehangatan lewat sepiring kenangan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































