
TIMETODAY.ID — Pagi yang masih gelap pada Selasa, 6 Mei 2025, menjadi saksi bisu kepergian seorang tokoh muda yang meninggalkan jejak mendalam, baik di dunia pesantren maupun panggung politik nasional. Alamudin Dimyati Rois, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Alam, wafat di Rumah Sakit Budi Rahayu Pekalongan setelah menjalani perawatan intensif pascakecelakaan tragis yang terjadi empat hari sebelumnya.
Anggota DPR RI dari Fraksi PKB itu meninggal dunia pukul 05.45 WIB, di usia yang masih terbilang muda untuk seorang tokoh publik yang tengah menanjak pengaruhnya.
Kecelakaan yang Mengubah Segalanya
Kecelakaan maut terjadi di KM 315 900 Tol Transjawa, wilayah Petarukan, Pemalang, Jumat (2/5) dini hari. Mobil yang ditumpangi Gus Alam bersama tiga orang lainnya menghantam pembatas jalan. Dalam kejadian itu, dua orang asisten pribadinya meninggal di tempat: Vicka Novitasari (41) dan Muhamad Balya (57).
Gus Alam dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis dan langsung mendapat penanganan intensif di ruang ICU. Meski tim medis telah berupaya maksimal, takdir berkata lain.
Sang sopir, Arya Maulana (38), selamat namun masih menjalani perawatan akibat luka di kepala dan pendarahan dari mulut.
Ulama Muda, Legislator, dan Penerus Harapan
Gus Alam bukan sekadar politisi. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadllu wal Fadhilah, sekaligus putra dari KH Dimyati Rois, tokoh sepuh Nahdlatul Ulama (NU). Warisan keulamaan dan intelektualnya menjadikan Gus Alam sebagai figur penting di kalangan santri dan warga nahdliyin.
Muhammad Yusuf Chudlori, Ketua DPW PKB Jawa Tengah, tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat mengonfirmasi kabar duka. “Kami merasa sangat kehilangan. Gus Alam adalah figur penerus ulama, tokoh politik muda yang tegas dan terbuka terhadap masukan kader,” ujarnya.
Gus Alam dikenal sebagai sosok yang kokoh dalam pendirian politik, namun tetap santun dan hangat dalam bergaul. Ia kerap menjembatani aspirasi akar rumput, khususnya dari komunitas pesantren, ke ruang parlemen.
Prosesi Terakhir Seorang Pejuang
Prosesi pemakaman Gus Alam dijadwalkan berlangsung hari ini, kemungkinan selepas salat Zuhur. Duka mendalam menyelimuti Kendal, tempat beliau bermukim dan kembali setelah aktivitasnya di Senayan. Tak hanya keluarga dan kerabat, para santri dan rekan-rekan politisi pun turut merasa kehilangan.
Di tengah riuhnya dunia politik, Gus Alam menjadi simbol bahwa kesalehan dan keberpihakan pada rakyat bisa berjalan beriringan. Kepergiannya menyisakan ruang kosong yang tak mudah tergantikan—di parlemen, di pesantren, dan di hati banyak orang.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel



































