Dari Takhta ke Harapan: Refleksi 6 Tahun Penobatan Kaisar Naruhito

Istana Kekaisaran Tokyo
Kaisar baru Jepang Naruhito menerima tanda kebesaran Kekaisaran berupa pedang dan permata sebagai bukti suksesi pada upacara di Istana Kekaisaran di Tokyo, Rabu, 1 Mei 2019. Berdiri di sebelah kiri adalah Putra Mahkota Akishino. (AP/Arsip)

TIMETODAY.ID — Pagi itu, 1 Mei 2019, matahari bersinar cerah menyinari halaman Istana Kekaisaran Tokyo. Di ruang kenegaraan Matsu-no-Ma yang penuh khidmat, sejarah baru tertulis bagi Jepang.

Seorang pria berusia 59 tahun menerima lambang kekuasaan kuno: pedang suci, segel kerajaan, dan lambang kekaisaran lainnya. Namanya Naruhito dan hari itu, ia resmi menjadi Kaisar Jepang ke-126, menggantikan sang ayah, Kaisar Akihito, yang sehari sebelumnya mengakhiri pengabdiannya sebagai simbol negara.

Dalam laporan CNN yang dikutip pada Kamis (1/5/2025), disebutkan bahwa prosesi penobatan Naruhito berlangsung dalam tradisi yang ketat dan sarat makna.

Advertisement

Hampir seluruh peserta upacara adalah laki-laki, sebagaimana tradisi yang diwariskan selama berabad-abad.

Namun ada satu pengecualian—Satsuki Katayama, satu-satunya menteri perempuan dalam kabinet Jepang saat itu, turut hadir dan mencuri perhatian publik.

Upacara itu bukan sekadar seremonial. Ini adalah lembaran baru dalam sejarah Kekaisaran Krisantemum, sebuah institusi yang konon memiliki garis keturunan tak terputus selama lebih dari 14 abad. Menjadi kaisar bukan hanya menerima warisan, tetapi juga tanggung jawab besar yang datang bersamanya.

Baca Juga :  Kali Cimanceri Meluap, 190 Rumah di Parung Panjang Terendam Banjir

“Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang tulus atas sikap Yang Mulia Kaisar Emeritus sebagai simbol negara dan pemersatu rakyat Jepang,” ucap Naruhito dalam pidato perdananya usai penobatan.

Ia juga menambahkan, “Saya bersumpah akan menjalankan tugas sesuai Konstitusi dan memenuhi tanggung jawab sebagai simbol negara serta pemersatu rakyat Jepang. Saya tulus berdoa demi kebahagiaan rakyat, kemajuan bangsa, dan perdamaian dunia.”

Dari sisi pemerintahan, sambutan hangat datang dari Perdana Menteri Shinzo Abe yang saat itu masih menjabat. Ia menegaskan harapan rakyat terhadap era baru.

“Kami memandang Yang Mulia sebagai simbol Jepang dan rakyat Jepang, dan kami dipenuhi harapan akan perdamaian dan kemakmuran, serta masa depan Jepang yang cerah,” ujarnya.

Penobatan Naruhito menandai awal dari era “Reiwa” — sebuah istilah yang diambil dari antologi puisi klasik Jepang abad ke-8.

Pemerintah Jepang menerjemahkannya sebagai “harmoni yang indah,” meski sejumlah pihak menafsirkan secara berbeda, sebagai “kedamaian yang diperintah.” Di balik nama itu, terbentang harapan sekaligus tantangan.

Baca Juga :  UNRWA Fasilitasi 300 Ribu Anak Gaza Kembali ke Sekolah Usai Dua Tahun Perang

“Nama era akan dibentuk oleh tindakan dan gesturnya,” ujar Jeffrey Kingston, Direktur Studi Asia di Temple University Jepang. Ia menyoroti pentingnya bagi Naruhito untuk tetap independen dari pengaruh politisi konservatif, dan menjaga posisi kaisar sebagai simbol yang inklusif.

Kaisar Naruhito bukanlah pemegang kekuasaan politik. Seperti ayah dan kakeknya, ia menjalankan peran simbolik yang penuh makna. Andrew Gordon, sejarawan Jepang modern dari Universitas Harvard, menyebut Naruhito sebagai sosok yang belajar dari ayahnya, Kaisar Akihito.

“Saya rasa putranya akan melanjutkan gaya ayahnya; dia pernah menyatakan secara terbuka bahwa ia belajar dari ayahnya,” kata Gordon.

“Saya kira gaya dasar kekaisaran dan peran kaisar seperti yang telah dibentuk ayahnya akan tetap dipertahankan.”

Enam tahun telah berlalu sejak hari bersejarah itu. Meski dunia telah banyak berubah, peran Naruhito tetap menjadi jangkar tenang bagi masyarakat Jepang—melanjutkan tradisi, menatap masa depan, dan menjaga harmoni dalam era Reiwa yang terus berjalan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel