Ketika Amazon, Trump, dan Tarif Impor Jadi Drama E-Commerce Amerika

Amazon
Foto: REUTERS/Nathan Howard
TIMETODAY.ID — Sebuah rencana internal Amazon mendadak menjadi perbincangan nasional. Pada Selasa (29/4), raksasa e-commerce asal Amerika Serikat itu sempat mempertimbangkan untuk menampilkan biaya impor pada barang-barang diskon di platform mereka. Gagasan tersebut muncul di lini produk murah Amazon yang dikenal dengan nama Amazon Haul.
Rencana yang belum sempat dieksekusi ini nyatanya memicu reaksi keras dari Gedung Putih. Di mata sejumlah pejabat, langkah Amazon dipandang bukan sekadar kebijakan bisnis biasa—melainkan sebagai pernyataan politik.
“Kenapa Amazon tidak melakukan hal serupa ketika pemerintahan Joe Biden menaikkan inflasi ke level tertinggi dalam 40 tahun?” sindir Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, dikutip dari CNBC International, Rabu (30/4/2025).
Tak butuh waktu lama, Amazon pun memberikan klarifikasi. Melalui juru bicaranya, Tim Doyle, perusahaan menyebut bahwa tim internal Amazon Haul memang sempat mendiskusikan wacana menampilkan biaya impor kepada konsumen. Namun setelah ditinjau ulang, rencana tersebut diputuskan tidak akan dijalankan.
Meski batal diterapkan, kabar soal rencana ini ternyata telah lebih dulu sampai ke telinga Presiden Donald Trump. Bahkan, menurut laporan CNBC International, Trump secara pribadi menelepon pendiri Amazon, Jeff Bezos, pada Selasa pagi.
Dalam percakapan itu, Trump mengutarakan ketidaksenangannya terhadap ide Amazon tersebut. Namun yang menarik, perbincangan tersebut berakhir dengan nada yang lebih ringan.
“Ia [Bezos] adalah pria yang baik,” ujar Trump, memberi sinyal bahwa ketegangan telah mencair.
Jeff Bezos sendiri tampaknya tengah berupaya membangun relasi yang lebih bersahabat dengan Trump di masa pemerintahan keduanya. Beberapa waktu lalu, miliarder itu terlihat menghadiri makan malam bersama Presiden di klub pribadi Mar-a-Lago, Florida.
Ia juga disebut hadir dalam pelantikan Trump Januari lalu, bahkan menyumbang dana untuk mendukung acara tersebut. Tak berhenti di situ, Bezos juga menggelontorkan dana sebesar US$40 juta untuk membeli lisensi dokumenter tentang Ibu Negara Melania Trump.
Namun demikian, hubungan baik itu tidak menghapus fakta bahwa kebijakan tarif Trump berdampak besar terhadap Amazon dan para pelaku e-commerce lainnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, Amazon mulai menjangkau jaringan penjual pihak ketiga untuk mengetahui dampak tarif tersebut terhadap rantai pasok dan biaya logistik mereka.
Beberapa pelapak bahkan terpaksa menaikkan harga dan memangkas anggaran iklan akibat lonjakan biaya impor.
CEO Amazon, Andy Jassy, mengungkapkan kepada CNBC bahwa tekanan biaya ini kemungkinan besar akan diteruskan kepada konsumen.
“Penjual kemungkinan besar perlu membebankan biaya tersebut kepada pembeli,” ujarnya.
Bukan hanya Amazon yang terkena imbas. Platform asal Tiongkok seperti Temu dan Shein juga mulai menyesuaikan harga barang. Pekan lalu, kedua platform tersebut mengonfirmasi bahwa mereka menaikkan harga sebagai respons terhadap tarif resiprokal dari AS.
Bahkan, Temu mencatat biaya impor untuk beberapa produk bisa mencapai 130 hingga 150 persen.
Apa yang awalnya tampak sebagai kebijakan teknis di balik layar kini berubah menjadi dinamika politik dan bisnis yang saling bertaut.
Di tengah era e-commerce yang kian mengglobal, isu tarif bukan lagi soal angka semata—tetapi juga tentang siapa bicara apa, kepada siapa, dan di momen yang bagaimana.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Songkran 2026 Telan 242 Korban Jiwa, Angka Kecelakaan Turun dari Tahun Lalu

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel