Ditinggal China, Boeing Putar Arah di Tengah Perang Dagang

Boeing
Boeing konfirmasi telah diboikot China sehingga berencana jual pesawat mereka kepada pelanggan yang lain. (AFP Photo/Jim Watson)

TIMETODAY.ID — Ketika pesawat-pesawat canggih buatan Boeing siap terbang ke berbagai penjuru dunia, satu negara besar justru menutup pintunya. China menghentikan penerimaan pesawat baru dari Boeing, dan bagi raksasa dirgantara asal Amerika Serikat ini, keputusan itu bukan sekadar masalah bisnis—melainkan tantangan geopolitik yang penuh konsekuensi.

“China telah berhenti menerima pengiriman pesawat karena permasalahan tarif,” ungkap CEO Boeing, Kelly Ortberg, dalam wawancara eksklusif dengan CNBC seperti dikutip AFP, Rabu (23/4/2025). Pernyataannya menegaskan bahwa ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China—yang terus membara sejak era Presiden Donald Trump—masih meninggalkan jejak dalam industri global.

Bagi Boeing, China bukan sekadar pasar. Negara itu merupakan tujuan ekspor utama yang sempat dijadwalkan menerima sekitar 50 pesawat pada 2025. Namun kini, semua rencana itu tergantung di udara.

Advertisement

Ortberg tidak tinggal diam. Ia menegaskan, perusahaan tidak akan menunggu terlalu lama. “Saya tidak akan membiarkan ini menggagalkan pemulihan perusahaan kami, jadi kami akan memberi pelanggan kesempatan jika mereka ingin mengambil pesawat tersebut,” katanya. “Itulah yang lebih kami sukai. Namun jika tidak, kami akan memasarkan ulang pesawat-pesawat itu.”

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Turun ke Level Terendah dalam Hampir Empat Tahun

Dalam masa sulit ini, Boeing tetap menunjukkan sinyal pemulihan. Meski masih mencatatkan kerugian sebesar 123 juta dolar AS pada kuartal pertama 2025, angka itu lebih kecil dibandingkan kerugian 343 juta dolar AS di periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan justru melonjak 18 persen menjadi 19,5 miliar dolar AS.

Ortberg—yang bergabung dengan Boeing pada musim panas 2024 setelah perombakan besar-besaran menyusul insiden serius pada pesawat Alaska Airlines—berupaya mengarahkan kapal besar ini ke jalur yang lebih aman. Tragedi masa lalu seperti kecelakaan fatal 737 MAX pada 2018 dan 2019 di Indonesia dan Ethiopia masih membayang, namun Ortberg optimistis.

“Perusahaan kami bergerak ke arah yang benar karena kami mulai melihat peningkatan kinerja operasional di seluruh bisnis kami dari fokus berkelanjutan kami pada keselamatan dan kualitas,” ujarnya dalam siaran pers.

Boeing kini menegaskan kembali target produksinya. Produksi 737 MAX direncanakan mencapai 38 unit per bulan tahun depan, dan produksi 787 Dreamliner ditingkatkan menjadi tujuh unit per bulan dari sebelumnya lima. Pengiriman perdana 777-9 dijadwalkan tetap pada 2026.

Baca Juga :  Rupiah Menguat Tipis di Awal Pekan, Sentuh Rp16.711 per Dolar AS di Tengah Pulihnya Sentimen Global

Demi memperkuat posisi keuangan, Boeing juga mengumumkan penjualan sebagian bisnis solusi digital penerbangannya kepada Thoma Bravo, perusahaan investasi yang berfokus pada perangkat lunak, senilai 10,55 miliar dolar AS. Dana segar itu diharapkan dapat menambal pembakaran kas perusahaan yang mencapai 2,3 miliar dolar AS, meski jauh lebih baik dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 3,7 miliar dolar AS menurut analis TD Cowen.

Meski turbulensi belum benar-benar reda, respons pasar cukup positif. Saham Boeing tercatat naik 6,1 persen dalam perdagangan awal pekan ini—sebuah sinyal bahwa investor mulai melihat angin perubahan.

Boeing mungkin tengah menghadapi badai geopolitik dan tekanan sejarah. Tapi dengan langkah-langkah strategis dan fokus pada pemulihan, raksasa langit ini tampaknya belum kehilangan arah.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel