5 Perubahan Hormonal dan Fisik pada Ibu Setelah Proses Menyapih

menyapih
Ilustrasi menyusui anak degan susu formula (istock)

TIMETODAY.ID — Momen menyapih sering kali menjadi titik emosional bagi ibu dan anak. Selain menandai fase baru dalam hubungan keduanya, menyapih juga membawa sejumlah perubahan signifikan pada tubuh ibu.

Tak hanya secara fisik, tapi juga secara hormonal dan emosional. Mengenali perubahan ini bisa membantu ibu lebih siap dan memahami bahwa apa yang dialami adalah proses alami.

Berikut lima perubahan utama yang umumnya terjadi setelah ibu menyapih bayinya:

Advertisement

1. Penurunan Hormon Prolaktin dan Oksitosin

Selama menyusui, dua hormon penting—prolaktin dan oksitosin—memegang peranan utama. Prolaktin bertugas memproduksi ASI, sedangkan oksitosin mendorong pengeluarannya sekaligus menciptakan rasa tenang dan kasih sayang.

Ketika proses menyapih dimulai, produksi kedua hormon ini menurun drastis. Akibatnya, tidak hanya suplai ASI yang berhenti, tetapi juga bisa muncul rasa hampa atau sedih karena turunnya hormon “bahagia” tersebut.

2. Kembalinya Siklus Menstruasi

Banyak ibu yang tidak mengalami menstruasi selama masa menyusui karena prolaktin menekan hormon reproduksi lainnya.

Baca Juga :  Mommy Wrist: Cedera Umum pada Ibu Baru yang Sering Diabaikan

Namun, setelah menyapih, hormon estrogen dan progesteron kembali aktif, memicu kembalinya siklus menstruasi. Beberapa ibu mengalami menstruasi yang lebih deras, lebih nyeri, atau dengan durasi yang berubah dibandingkan sebelum hamil.

3. Perubahan Emosional

Tidak sedikit ibu yang merasa “kosong” setelah menyapih. Kondisi ini dikenal sebagai post weaning depression—depresi ringan pasca menyapih yang dipicu oleh perubahan hormon secara mendadak.

Gejalanya bisa berupa perubahan suasana hati, mudah menangis, merasa kehilangan, hingga kelelahan emosional. Penting untuk menyadari bahwa ini adalah reaksi yang wajar, dan mendapatkan dukungan emosional dari pasangan maupun komunitas sangat membantu.

4. Pembengkakan dan Nyeri Payudara

Tubuh tidak langsung berhenti memproduksi ASI setelah bayi disapih. Proses penghentian ini bisa menyebabkan pembengkakan, rasa nyeri, bahkan sumbatan saluran ASI jika tidak ditangani dengan tepat.

Mengompres dengan air dingin, mengenakan bra yang nyaman, dan menghindari stimulasi puting bisa membantu meredakan gejala ini secara alami.

Baca Juga :  Pendaftaran Beasiswa LPDP 2025 Resmi Dibuka, Simak Syarat dan Cara Daftarnya

5. Perubahan Berat Badan dan Metabolisme

Saat menyusui, tubuh membakar kalori ekstra untuk memproduksi ASI. Setelah menyapih, kebutuhan kalori menurun, tetapi kebiasaan makan selama menyusui mungkin masih terbawa.

Jika tidak diimbangi dengan penyesuaian pola makan dan aktivitas fisik, beberapa ibu bisa mengalami kenaikan berat badan. Sebaliknya, ada juga yang mengalami penurunan berat badan drastis karena perubahan metabolisme.

Menyapih adalah fase transisi penting yang tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga pada ibu.

Dengan memahami perubahan yang terjadi, ibu bisa lebih siap menjalani proses ini dengan tenang dan penuh kesadaran.

Bila muncul gejala fisik atau emosional yang berat dan berkepanjangan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dukungan, informasi, dan self-care adalah kunci untuk melewati masa ini dengan nyaman.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel