
TIMETODAY.ID — Di tengah kegelapan yang belum juga sirna di Jalur Gaza, satu sinyal muncul dari balik bayang-bayang konflik: Hamas menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi soal pertukaran semua sandera dengan tahanan Palestina, jika itu menjadi bagian dari kesepakatan lebih besar untuk mengakhiri perang.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Khalil Al-Hayya, pemimpin tim negosiasi Hamas, dalam pidato yang ditayangkan di televisi. Namun, yang mengejutkan, Hamas justru menolak gencatan senjata sementara yang selama ini menjadi fokus mediasi berbagai pihak internasional.
“Netanyahu dan pemerintahnya menggunakan kesepakatan parsial sebagai kedok untuk agenda politik mereka,” tegas Hayya, menyindir Perdana Menteri Israel. “Kami tidak akan menjadi bagian dari kebijakan ini.”
Jalan Terjal Menuju Perdamaian
Meski Mesir dan Qatar telah berperan aktif sebagai mediator, terutama setelah gencatan senjata sempat terwujud pada Januari lalu, usaha memulihkan perjanjian tersebut kembali gagal dalam perundingan terbaru di Kairo, Senin (14/4).
Dalam laporan dari Arab News, Hayya menyebut bahwa Hamas telah menerima proposal dari mediator yang mencakup pembebasan sebagian sandera, pertukaran tahanan, hingga pembicaraan fase kedua yang mencakup penghentian total konflik dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Namun, ia juga menuduh Israel mengajukan tawaran balasan yang “mustahil diterima”, tanpa menjelaskan lebih detail syarat-syarat yang dimaksud.
Titik Kritis: Sandera sebagai Kunci
Pertukaran sandera kembali menjadi kunci dalam dinamika negosiasi. Hamas menegaskan kesediaan mereka menukar semua sandera yang masih ditahan dengan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, sesuatu yang menjadi tekanan kuat dari komunitas internasional dan keluarga korban.
Namun, posisi tegas Hamas terhadap gencatan senjata sementara bisa menjadi penghalang baru. Sebab, dalam skenario diplomasi biasanya, gencatan senjata parsial adalah pintu masuk menuju perdamaian menyeluruh.
Harapan yang Belum Padam
Meskipun jalan masih penuh ranjau politik dan kepentingan, pernyataan terbaru ini memperlihatkan bahwa kesepakatan besar masih mungkin terjadi. Tapi seperti biasa, dalam konflik berkepanjangan ini, waktu dan tekanan publik akan menjadi faktor krusial apakah kedua pihak benar-benar bersedia meninggalkan senjata demi masa depan yang lebih damai.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































