TIMETODAY.ID — Di tengah hembusan angin sejuk Hambalang yang mengalir dari perbukitan Bogor, suasana di kediaman Prabowo Subianto pagi itu tak sekadar santai. Di antara cangkir kopi dan tawa ringan, diskusi serius soal masa depan bangsa mengalir—salah satunya, tentang korupsi.
Bagi sebagian orang, memiskinkan koruptor mungkin terdengar ekstrem. Tapi tidak untuk Prabowo. Presiden terpilih ini menyebut dengan tegas, “Kembalikan yang kau curi!” seraya menekankan bahwa negara berhak menyita aset hasil korupsi sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Namun, ia tak ingin perkara ini jadi bumerang yang merusak asas keadilan. Prabowo menolak jika negara ikut menyita harta yang bukan hasil korupsi. Ia menyebut, keadilan tak boleh dikorbankan, terlebih menyangkut keluarga si terpidana.
“Apakah adil menyita aset yang sudah dimiliki sebelum menjabat? Bagaimana dengan anaknya, apakah dosa orang tua harus ditanggung anak-anaknya?” ujarnya dalam wawancara eksklusif bersama sejumlah pimpinan media nasional, Selasa (8/4/2025).
Antara Kemarahan dan Keadilan
Meski penuh pertimbangan, bukan berarti Prabowo melunak terhadap pelaku korupsi. Ia bahkan mengaku geram.
“Ini perampokan yang dilakukan seolah-olah legal,” katanya dengan nada serius. Ia menyadari betul bahwa praktik korupsi merampas hak rakyat dan memperlambat kemajuan bangsa.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya memberi efek jera. Ia menyebut, salah satu cara menghadapinya adalah dengan menantang vonis ringan yang mencederai rasa keadilan. Pemerintah, katanya, siap naik banding demi memastikan keadilan ditegakkan.
“Para koruptor ini berpikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang. Masuk penjara tiga tahun, keluar, hidup nyaman. Ini yang harus dihentikan,” tegas Prabowo.
Harapan untuk Masa Depan
Wacana pemiskinan koruptor mungkin akan terus menuai pro dan kontra. Tapi satu hal yang jelas: Prabowo ingin keadilan ditegakkan tanpa kehilangan sisi manusiawi. Bahwa memberantas korupsi tak hanya soal hukum, tapi juga moral dan etika.
Dan dari Hambalang, suara itu mengalir deras. Sebuah ajakan untuk jujur, tegas, tapi tetap adil. Sebuah pengingat bahwa kekuasaan sejati bukan hanya tentang memimpin, tapi tentang melindungi yang lemah dan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































