
TIMETODAY.ID — Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat mengancam akan menyerang infrastruktur nuklir Iran. Rusia, yang selama ini menjaga hubungan dengan Iran, menanggapi ancaman tersebut dengan peringatan serius terhadap AS mengenai konsekuensi yang dapat berujung pada bencana bagi kawasan Timur Tengah.
Mengutip Times of Israel, ketegangan ini mencuat setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran akan menghadapi serangan udara jika tidak bersedia mencapai kesepakatan dengan Washington terkait program nuklirnya. Ancaman tersebut mendapat respons tajam dari Rusia, yang menilai pendekatan AS tidak tepat.
“Ancaman memang didengar, ultimatum juga didengar,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, dalam wawancara dengan jurnal Rusia International Affairs. “Kami menganggap metode tersebut tidak pantas, kami mengutuknya, dan melihatnya sebagai cara [AS] untuk memaksakan kehendaknya kepada Iran.”
Selama ini, Rusia cenderung menahan diri dalam mengkritik Trump secara terbuka. Presiden Vladimir Putin bahkan berupaya memperbaiki hubungan dengan AS, meski langkah ini disambut dengan keprihatinan oleh Ukraina dan sekutu-sekutu Eropa.
Kremlin juga menawarkan diri sebagai mediator antara Washington dan Teheran, mengingat hubungan eratnya dengan Iran yang baru-baru ini menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan Moskow.
Trump, dalam pernyataan eksklusif kepada NBC News, menegaskan bahwa Iran harus mencapai kesepakatan atau menghadapi dampak serius.
“Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan terjadi pengeboman,” katanya. “Ini akan menjadi pengeboman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.”
Sejak menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran 2015—yang membatasi aktivitas nuklir Teheran dengan imbalan pelonggaran sanksi—Trump terus menerapkan tekanan maksimum terhadap Iran.
Sejak itu, Iran pun melampaui batas pengayaan uranium yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut, meskipun mereka bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk kepentingan damai dan bukan untuk membuat senjata atom.
Ryabkov menilai retorika Trump hanya akan memperumit situasi dan memperbesar risiko konflik.
“Dampak dari hal ini, terutama jika serangan ditujukan pada infrastruktur nuklir, bisa menjadi bencana besar bagi seluruh kawasan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Ryabkov mengajak semua pihak untuk memanfaatkan peluang diplomasi sebelum situasi semakin sulit dikendalikan.
“Selagi masih ada waktu dan ‘kereta belum berangkat [dari stasiun],’ kita perlu menggandakan upaya kita untuk mencoba mencapai kesepakatan yang masuk akal. Rusia siap menawarkan jasanya kepada Washington, Teheran, dan siapa pun yang ingin menghindari eskalasi lebih lanjut.”
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































