Trump Gelar Buka Puasa di Gedung Putih: Ucapkan Terima Kasih kepada Muslim Amerika

Donald Trump
Presiden AS Donald Trump melambaikan tangan kepada pers saat berjalan di South Lawn untuk menaiki Marine One di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat, pada 28 Maret 2025. Foto/Xinhua/Hu Yousong

TIMETODAY.ID — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengadakan buka puasa pertama di masa jabatan keduanya di Gedung Putih, sebuah acara yang menyoroti hubungan pemerintahannya dengan komunitas Muslim Amerika.

Dalam kesempatan tersebut, Trump mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada “ratusan ribu” warga Muslim Amerika yang memberikan dukungan dalam pemilihan umum 2024.

Dukungan Muslim Amerika dan Pernyataan Trump

Advertisement

Berbicara dalam acara makan malam yang digelar pada Kamis (27/3/2025), Trump menyampaikan apresiasinya kepada komunitas Muslim yang menurutnya telah berperan besar dalam kemenangannya.

“Komunitas Muslim ada untuk kita pada bulan November, dan selama saya menjadi presiden, saya akan ada untuk Anda,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut menyoroti perubahan pola dukungan politik, di mana banyak pemilih Arab-Amerika yang sebelumnya condong ke Partai Demokrat justru memilih Trump dalam pemilu 2024. Faktor utama yang mendorong pergeseran ini diduga berkaitan dengan kebijakan mantan Presiden AS Joe Biden yang mendukung operasi militer Israel di Gaza.

Baca Juga :  Produk AS Masuk Indonesia Tetap Halal, BPJPH Terapkan Sistem Dua Label

Menyoroti Kebijakan Timur Tengah

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menegaskan kembali komitmennya dalam diplomasi Timur Tengah. Ia menyinggung Perjanjian Abraham yang ditandatangani pada 2020, yang bertujuan menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara mayoritas Muslim seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan.

“Pemerintahan saya terlibat dalam diplomasi tanpa henti untuk menciptakan perdamaian abadi di Timur Tengah, membangun Perjanjian Abraham yang bersejarah, yang menurut semua orang tidak mungkin, dan sekarang kami akan mulai mewujudkannya,” katanya.

Namun, di balik retorika perdamaian tersebut, kebijakan luar negeri Trump masih menuai kontroversi. Setelah menjabat kembali pada Januari 2025, ia berjanji akan menghentikan perang di Gaza. Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa Trump justru memberikan “lampu hijau” bagi Israel untuk melanjutkan serangan militernya di wilayah tersebut pada awal Maret.

Perang di Gaza dan Peran AS

Sejak pertempuran kembali berkecamuk, pasukan Israel dilaporkan telah menewaskan hampir 900 warga Palestina dalam kurun waktu 10 hari terakhir, termasuk ratusan anak-anak. Dukungan AS terhadap Israel juga semakin nyata dengan persetujuan Trump terhadap penjualan senjata senilai hampir USD12 miliar ke negara tersebut.

Baca Juga :  Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Sempat Menyentuh Level Rp 17.310 per Dolar AS

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membenarkan keputusan tersebut, sementara Wakil Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Morgan Ortagus, mengungkapkan bahwa Washington telah “melepaskan Israel” dengan memberikan “semua senjata yang dibutuhkannya” untuk melanjutkan perangnya di Gaza.

Tidak hanya itu, Trump juga menuai kritik setelah menyerukan pengusiran paksa warga Palestina dari Gaza. Ia bahkan mengumumkan rencana untuk “mengambil alih” daerah kantong tersebut, merelokasi penduduknya, dan mengubah wilayah itu menjadi “Riviera Timur Tengah.”

Dengan dinamika yang terus berkembang, kebijakan luar negeri Trump di Timur Tengah tampaknya akan tetap menjadi topik yang menarik perhatian dunia, terutama bagi komunitas Muslim di AS dan negara-negara yang terdampak langsung oleh keputusan politiknya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel