TIMETODAY.ID — Myanmar tengah berduka setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang kawasan barat laut kota Sagaing pada Jumat (28/3). Guncangan yang terjadi di kedalaman dangkal ini telah menyebabkan kerusakan hebat di berbagai wilayah, merenggut ratusan nyawa, dan melukai ribuan orang.
Hingga Sabtu (29/3), junta militer Myanmar mengumumkan jumlah korban tewas telah mencapai 694 orang, sementara 1.670 lainnya mengalami luka-luka. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring dengan upaya pencarian dan evakuasi yang terus dilakukan.
Guncangan Tak Hanya di Myanmar
Dampak gempa tak hanya dirasakan di Myanmar. Negara tetangganya, Thailand, juga mengalami kerusakan parah akibat guncangan dahsyat ini. Di Negeri Gajah Putih, sebuah gedung pencakar langit yang tengah dalam tahap konstruksi runtuh, menewaskan sedikitnya tujuh orang. Tim penyelamat masih berusaha mencari korban lain yang kemungkinan terjebak di bawah reruntuhan.
Prediksi USGS: Potensi Ribuan Korban Jiwa
Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) mengeluarkan peringatan serius melalui sistem otomatisnya, Pager. Berdasarkan pemodelan yang dibuat, USGS memperkirakan jumlah korban tewas akibat gempa ini berpotensi melebihi 10.000 orang. Prediksi ini dihitung berdasarkan intensitas guncangan serta kepadatan populasi di wilayah terdampak.
Namun, para ahli menekankan bahwa estimasi tersebut belum mempertimbangkan dampak lanjutan seperti tanah longsor, likuifaksi, dan potensi tsunami yang bisa memperburuk situasi.
Pemerintah dan Relawan Bergerak Cepat
Tim penyelamat, termasuk militer, organisasi kemanusiaan, dan relawan, kini dikerahkan ke berbagai daerah terdampak untuk mengevakuasi korban serta menyalurkan bantuan. Namun, kondisi geografis Myanmar yang sulit diakses serta keterbatasan sumber daya menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyelamatan.
Di tengah kekacauan, masyarakat Myanmar harus menghadapi tantangan besar, bukan hanya untuk mencari korban yang masih tertimbun reruntuhan, tetapi juga untuk bertahan hidup di tengah bencana ini. Dunia kini menyoroti Myanmar, menunggu perkembangan lebih lanjut serta berharap jumlah korban tak lagi bertambah.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































