China Naikkan Tarif Produk Kanada hingga 100 persen, Sinyal Tegas di Tengah Memanasnya Perdagangan

China dan Kanada
Foto: Bendera Kanada dan China. (Fred Dufour/Pool Photo via AP)

TIMETODAY.ID — Ketegangan dagang antara China dan Kanada semakin memuncak. Senin (10/3/2025), Beijing mengumumkan kebijakan tarif yang mengejutkan, menaikkan bea masuk hingga 100% untuk sejumlah produk pangan asal Kanada. Langkah ini diyakini sebagai respons atas kebijakan proteksionis yang sebelumnya diterapkan oleh Ottawa terhadap barang-barang asal China.

Dalam pernyataannya, Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa tarif 100% akan dikenakan pada minyak lobak, bungkil minyak, serta kacang polong asal Kanada yang memiliki nilai impor lebih dari US$ 1 miliar (Rp 16 triliun). Namun, ada satu komoditas yang dikecualikan dari daftar tersebut, yakni kanola, yang sebelumnya sempat masuk dalam penyelidikan anti-dumping China.

Tak hanya produk nabati, Beijing juga akan menerapkan tarif 25% terhadap produk perikanan dan daging babi Kanada, dengan total nilai impor mencapai US$ 1,6 miliar (Rp 26 triliun). Kebijakan ini dijadwalkan berlaku mulai 20 Maret 2025 dan diyakini sebagai balasan atas langkah Kanada yang lebih dari empat bulan lalu mengenakan tarif serupa terhadap kendaraan listrik serta produk baja dan aluminium asal China.

Advertisement

“Tindakan Kanada tersebut secara serius melanggar peraturan Organisasi Perdagangan Dunia, merupakan tindakan proteksionisme yang umum dan merupakan tindakan diskriminatif yang sangat merugikan hak dan kepentingan sah China,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China yang dikutip oleh Reuters.

Tembakan Peringatan atau Ruang Negosiasi?

Keputusan Beijing untuk tidak memasukkan kanola dalam daftar produk yang dikenai tarif menimbulkan spekulasi di kalangan analis. Beberapa berpendapat bahwa hal ini bisa menjadi sinyal bahwa China masih membuka pintu untuk perundingan perdagangan dengan Kanada. Namun, tarif tinggi yang diberlakukan juga dianggap sebagai peringatan tegas bagi Ottawa.

Baca Juga :  Israel Gempur Hizbullah di Lebanon, Ini Tujuan Strategis di Balik Operasi Militer

Analis politik Dan Wang, Direktur China di Eurasia Group, mengaitkan langkah ini dengan dinamika geopolitik yang lebih luas.

“Waktunya bisa menjadi peringatan,” ujarnya. “Dengan menyerang sekarang, China mengingatkan Kanada tentang biaya yang harus dibayar jika terlalu dekat dengan kebijakan perdagangan AS.”

Pernyataan Wang merujuk pada kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump, yang mengisyaratkan kemungkinan pengurangan tarif impor sebesar 25% terhadap Kanada dan Meksiko jika mereka bersedia menerapkan bea tambahan 20% pada barang-barang China dengan alasan aliran fentanil.

Dampak Besar bagi Industri Kanada

Keputusan Beijing ini dikhawatirkan akan memberikan dampak besar bagi berbagai sektor industri di Kanada, terutama sektor pertanian dan perikanan. Perdana Menteri Justin Trudeau sebelumnya menyatakan bahwa tarif yang dikenakan Ottawa terhadap China bertujuan untuk menanggulangi kebijakan kelebihan kapasitas yang dianggap merugikan industri Kanada, serupa dengan langkah yang telah diambil oleh AS dan Uni Eropa.

Namun, bagi para eksportir Kanada, kebijakan China ini menghadirkan tantangan besar. Rosa Wang, analis di konsultan pertanian JCI, menilai bahwa pengecualian kanola dari daftar tarif bisa menjadi isyarat bahwa Beijing masih membuka peluang untuk bernegosiasi.

“Penyelidikan terhadap kanola Kanada masih berlangsung. Bahwa kanola tidak termasuk dalam daftar tarif kali ini mungkin juga merupakan isyarat untuk memberi ruang bagi negosiasi,” jelasnya.

China merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Kanada, dengan total ekspor Kanada ke China mencapai US$ 47 miliar (Rp 765 triliun) pada tahun 2024. Sementara itu, bagi industri daging babi Kanada, dampaknya akan sangat terasa, mengingat China adalah pasar ekspor daging babi terpenting ketiga bagi negara tersebut.

Baca Juga :  Resep Mantou untuk Pemula, Roti Kukus Tradisional Tiongkok

Cam Dahl, Manajer Umum Dewan Daging Babi Manitoba, mengungkapkan bahwa banyak produk yang diekspor ke China, seperti kepala babi, tidak memiliki pasar alternatif yang mudah ditemukan.

“Barang yang kami ekspor ke China, misalnya kepala, adalah bagian dari hewan yang tidak memiliki pasar lain yang mudah,” ungkapnya. “Kami tidak dapat mengambil kontainer yang akan dikirim ke China dan mengirimkannya begitu saja ke Meksiko.”

Sementara itu, Chris Davison, Presiden dan CEO Dewan Kanola Kanada, menyatakan bahwa jika tarif diberlakukan terhadap kanola, dampaknya bisa sangat besar bagi industri pertanian Kanada.

“Tingkat (tarif) yang dibicarakan di sini adalah tingkat yang sangat tinggi, sudah pasti. Dampaknya akan terasa di seluruh industri,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah akan sangat dibutuhkan dalam menghadapi kondisi ini.

Dengan dinamika perdagangan yang semakin kompleks, langkah berikutnya dari kedua negara akan sangat menentukan arah hubungan dagang mereka ke depan. Apakah Kanada dan China akan memilih jalur negosiasi, ataukah ketegangan ini akan semakin meningkat dengan kebijakan tarif balasan yang lebih agresif? Waktu yang akan menjawab.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel