TIMETODAY.ID — Puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan proses pendidikan jiwa yang bertujuan meningkatkan ketakwaan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang tanpa sadar melakukan kebiasaan buruk yang dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala puasanya.
Syaikh Prof. Dr. Abdurrahman As-Sudais, Imam dan Khatib Masjidil Haram Makkah, memberikan nasihat berharga mengenai pentingnya menjaga kualitas ibadah puasa. Beliau menyoroti kebiasaan banyak orang yang menghabiskan siang hari dengan tidur berlebihan dan malam hari dengan begadang untuk menonton film, acara televisi, atau berselancar di media sosial tanpa manfaat.
Lebih dari itu, beliau menyesalkan perbuatan yang bisa merusak pahala puasa seperti ghibah (menggunjing), adu domba, menyebarkan hoaks, serta berbohong.
Dalam sabda Rasulullah SAW disebutkan:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, serta kebodohan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala keburukan yang dapat mengurangi nilainya.
Puasa sebagai Sarana Pendidikan Jiwa
Syaikh As-Sudais menegaskan bahwa puasa adalah bentuk latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, seorang Muslim harus lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam godaan setan, baik dari golongan jin maupun manusia, yang bisa merusak nilai ibadahnya.
Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah tergoda untuk menyebarkan gosip atau terlibat dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat, terlebih mengenai para pemimpin, ulama, imam, dan para penyeru kebaikan.
“Puasa adalah pendidikan. Bukan hanya sekadar menahan dari makanan dan minuman. Itu mudah. Akan tetapi, puasa mendidik jiwa kepada sesuatu yang lebih besar, maka berhati-hatilah dari tipu daya setan dan apa yang bersamanya, baik setan dari golongan manusia dan jin yang ingin merusak puasa kalian. Dan berhati-hatilah dari desas-desus, gosip, dan terlibat dalam pembicaraan, khususnya terhadap para pemimpin, ulama, imam, dan para penyeru kebaikan. Jagalah lisan, agar tidak menjadi sia-sia segala bentuk kebaikan.” – (Syaikh Prof. Dr. Abdurrahman As-Sudais)
Menjaga Kualitas Puasa di Bulan Ramadhan
Agar ibadah puasa benar-benar menjadi sarana peningkatan ketakwaan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Menjaga Lisan dan Perbuatan
- Hindari menggunjing, menyebarkan fitnah, dan berbicara buruk tentang orang lain.
- Jangan terlibat dalam penyebaran berita hoaks atau desas-desus yang belum jelas kebenarannya.
- Usahakan untuk berbicara dengan baik dan memberikan manfaat bagi orang lain.
2. Memanfaatkan Waktu dengan Kegiatan Positif
- Perbanyak membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya.
- Mengikuti kajian keislaman yang dapat menambah ilmu dan keimanan.
- Mengisi waktu dengan ibadah sunnah seperti shalat malam dan berdzikir.
3. Menjalin Hubungan Baik dengan Sesama
- Berbuat baik kepada keluarga, tetangga, dan orang-orang di sekitar.
- Memperbanyak sedekah dan membantu mereka yang membutuhkan.
- Menghindari pertengkaran dan perdebatan yang tidak bermanfaat.
Kesimpulan
Puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan meningkatkan ketakwaan. Menjaga lisan, menghindari perbuatan sia-sia, serta memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif adalah kunci utama agar ibadah puasa tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan jiwa yang berharga.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































