
TIMETODAY.ID — Di tengah perdebatan global mengenai dominasi dolar AS, Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar, mengklarifikasi asumsi bahwa kelompok negara berkembang BRICS berada di garis terdepan dalam upaya dedolarisasi. Dalam pertemuan di London, Jaishankar menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak didukung oleh fakta.
India, menurut Jaishankar, tidak memiliki kepentingan untuk menggoyahkan posisi dolar AS dalam perdagangan global. “India tidak tertarik sama sekali untuk menghancurkan dolar,” tegasnya dalam diskusi di Chatham House sebagai bagian dari kunjungan resminya ke Inggris.
Tidak Ada Konsensus dalam BRICS
Dalam pernyataannya, Jaishankar mengungkapkan bahwa upaya dedolarisasi tidak mendapatkan dukungan yang kuat dari sebagian besar anggota BRICS. Dengan semakin banyaknya anggota baru yang bergabung, ia melihat bahwa masing-masing negara memiliki pandangan yang berbeda terhadap dominasi mata uang AS.
“Saya juga akan mengatakan dengan jujur, saya berpikir BRICS tidak bersatu tentang ini. Saya pikir anggota BRICS, dan sekarang kami memiliki lebih banyak anggota, memiliki posisi yang sangat beragam dalam masalah ini (dedolarisasi),” ujarnya, seperti dikutip dari RT.
Lebih lanjut, ia menepis anggapan bahwa BRICS memiliki sikap kolektif terhadap dolar. “Jadi asumsi bahwa di suatu tempat ada posisi BRICS yang bersatu terhadap dolar, saya pikir tidak didukung oleh fakta,” tambahnya.
Selain itu, Jaishankar menegaskan bahwa ia tidak percaya konsep multipolaritas dalam geopolitik harus diterjemahkan ke dalam sistem mata uang. “Multipolaritas tidak harus diterjemahkan ke dalam mata uang multipolar,” katanya.
Respon terhadap Klaim Donald Trump
Pernyataan Jaishankar ini muncul tidak lama setelah mantan Presiden AS Donald Trump menuduh BRICS sedang berupaya menghancurkan dolar AS. Dalam sebuah pernyataan kontroversial, Trump bahkan mengklaim bahwa kelompok tersebut telah “mati” akibat ancamannya untuk menerapkan tarif tinggi terhadap negara-negara anggota BRICS.
“Ketika saya masuk, hal pertama yang saya katakan adalah negara BRICS manapun, bahkan yang menyebutkan penghancuran dolar akan dikenakan tarif 150%, dan kami tidak menginginkan barang-barang Anda, dan negara-negara BRICS bubar,” ujar Trump pada Februari lalu, hanya beberapa jam sebelum bertemu Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Gedung Putih.
BRICS yang Semakin Berkembang
BRICS, yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, dalam dua tahun terakhir telah memperluas keanggotaannya. Kini, kelompok ini juga mencakup Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia. Sementara itu, Arab Saudi telah menerima keanggotaan tetapi belum secara resmi bergabung.
Meski semakin besar, komentar Jaishankar menunjukkan bahwa BRICS bukanlah blok ekonomi yang sepenuhnya sejalan dalam setiap isu strategis. Pandangan beragam mengenai dedolarisasi ini menjadi bukti bahwa kebijakan ekonomi di dalam kelompok tersebut tetap ditentukan oleh kepentingan nasional masing-masing anggota.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel




































