TIMETODAY.ID — Siang itu di Ahmedabad, India, suasana di asrama BJ Medical College tampak seperti biasanya. Sejumlah mahasiswa kedokteran tengah menikmati waktu istirahat makan siang mereka. Piring-piring berisi makanan tersaji di atas meja kantin, gelas-gelas masih tergeletak utuh—tanda sesi santai di sela-sela aktivitas padat kampus.
Namun, dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi kepanikan. Pada Kamis (12/6), sebuah pesawat Boeing 787-8 Dreamliner milik Air India yang baru lepas landas dari Bandara Internasional Sardar Vallabhbhai Patel menuju London, kehilangan daya angkat di ketinggian 825 kaki. Pesawat dengan 242 orang di dalamnya itu jatuh dan menghantam gedung asrama sekitar pukul 13.40 waktu setempat.
Benturan keras itu merenggut nyawa lima mahasiswa kedokteran dan melukai puluhan lainnya. Gambar-gambar dari lokasi kejadian yang dikutip NDTV memperlihatkan puing pesawat terjebak di antara bangunan asrama yang rusak. Di sekitar reruntuhan, tampak orang-orang berdiri terpaku, masih berusaha memahami kedahsyatan tragedi yang baru saja terjadi.
FAIMA Doctors Association menyampaikan duka mendalam atas insiden tersebut. “Kami sangat terkejut mendengar berita jatuhnya pesawat AI di Ahmedabad. Berita menjadi lebih mengerikan setelah mengetahui bahwa pesawat itu hancur di BJMC, Hostel & banyak mahasiswa MBBS juga terluka!!!! Kami memantau situasi dengan saksama & siap untuk memberikan bantuan!” tulis mereka lewat pernyataan di X.
Hampir 40 dokter dilaporkan terluka dalam insiden ini, dengan setidaknya satu orang dalam kondisi kritis. Salah satu saksi mata, dr Shyam Govind dari BJ Medical College, menceritakan bagaimana dirinya ikut menjadi korban.
“Saya dan dokter junior saya terluka. 30-40 dokter sarjana juga mengalami luka-luka dan satu hingga dua mahasiswa mengalami luka serius,” ungkapnya kepada NDTV.
Di tengah kekacauan itu, muncul kisah dramatis tentang upaya penyelamatan diri. Ramila, seorang ibu dari mahasiswa yang tinggal di asrama, berbagi pengalamannya saat tiba di rumah sakit sipil Ahmedabad. Ia mengaku lega anaknya selamat meski harus melompat dari lantai dua gedung untuk menghindari maut.
“Anak saya pergi ke asrama saat istirahat makan siang, dan pesawat jatuh di sana. Anak saya selamat, dan saya sudah berbicara dengannya. Dia melompat dari lantai dua, jadi dia mengalami beberapa luka,” tutur Ramila kepada kantor berita ANI.
Kini, suasana duka menyelimuti kampus BJ Medical College. Insiden ini bukan hanya meninggalkan luka fisik bagi para korban, tetapi juga trauma mendalam bagi para mahasiswa dan keluarga mereka. Sementara itu, pihak berwenang terus melakukan penyelidikan dan evakuasi di lokasi kejadian, diiringi doa dan harapan agar tragedi serupa tak terulang.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































