
TIMETODAY.ID, BOGOR – Langit Kota Bogor kembali menggelayut kelabu. Awan-awan pekat berarak, membawa serta butiran hujan yang jatuh tanpa ragu. Bagi sebagian orang, hujan deras akan menyisakan genangan air yang menghambat langkah. Namun, bagi Syahid Yazid Al-Haq, hujan justru membawa berkah, seperti benih yang tumbuh subur setelah disirami air kehidupan.
Di Jalan Tentara Pelajar, tepat di simpang Warung Legok, Syahid tampak sibuk. Tangannya cekatan meraih jas hujan, matanya awas memantau pembeli yang datang silih berganti. Hujan yang mengguyur selama beberapa hari terakhir membuat tokonya lebih ramai dari biasanya.
“Lumayan sih, soalnya kan hujannya deras terus. Ramai itu ketika hujan turun, banyak pengendara yang mampir ke sini,” ujar pria 27 tahun itu saat timetoday.id menyambangi tokonya, Selasa (4/3/2025).
Sebagian besar pembeli lebih memilih jas hujan plastik sekali pakai, murah, praktis, dan cukup untuk menyelamatkan mereka dari basah kuyup.
“Kebanyakan nyari yang plastik sekali pakai. Sepertinya lebih praktis. Kalau yang bagus bisa dihitung,” tambahnya.
Di tokonya, jas hujan tersedia dalam berbagai jenis, mulai dari yang sederhana seharga Rp45.000 hingga yang lebih premium dengan harga ratusan ribu rupiah.
“Yang harga Rp45.000 itu gak pakai celana,” jelasnya, seolah ingin memastikan setiap pembeli mendapatkan perlindungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Namun, bukan hanya jas hujan yang menjadi andalan dagangannya. Di rak-rak tokonya, berjajar pula helm berbagai model, dari ukuran anak-anak hingga dewasa. Bagi Syahid, hujan bukan hanya mendatangkan pelanggan, tetapi juga membuka peluang bagi mereka yang ingin melengkapi perlengkapan berkendara.
Usaha yang dijalankan Syahid bukan sekadar jualan musiman. Ini adalah tongkat estafet yang diwariskan dari ayahnya sejak tahun 2012. Seperti hujan yang tak pernah berhenti mengaliri tanah Bogor, usaha ini terus berlanjut, menyambung kehidupan dari generasi ke generasi.
“Jadi usaha ini merupakan usahanya keluarga. Awalnya ayah saya, kemudian diwariskan ke saya,” kenangnya.
Setiap hari, dari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB, Syahid setia berjaga di tokonya. Di bawah langit yang kadang cerah, kadang mendung, ia tetap melayani mereka yang membutuhkan perlindungan dari hujan.
Bagi Syahid, hujan bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah rezeki yang turun dari langit, berkah yang mengetuk pintu tokonya tanpa henti.
“Alhamdulillah, selalu ada saja yang beli,” kata Syahid menutup wawancara. ***







































