TIMETODAY.ID, BOGOR – Menyambut bulan suci Ramadan 1446 H, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai ajang memperkuat nilai-nilai toleransi dan kepedulian sosial. Dalam suasana keberagaman, ia menegaskan pentingnya menjaga harmoni dan mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.
Namun, ajakan ini tidak hanya sekadar seruan moral. Sastra juga menyoroti berbagai aspek sosial yang kerap menjadi perhatian selama Ramadan, mulai dari operasional tempat hiburan malam hingga fenomena sahur on the road yang kerap menimbulkan gangguan ketertiban.
Dalam wawancaranya, Jumat (28/2/2025), ia menyampaikan bahwa menjaga ketertiban dan kenyamanan selama Ramadan adalah tanggung jawab bersama.
Ramadan bukan hanya tentang menjalankan ibadah puasa, tetapi juga momen untuk menumbuhkan solidaritas sosial. Oleh karena itu, Sastra mengajak masyarakat untuk memperbanyak kegiatan berbagi, baik dalam bentuk santunan kepada kaum dhuafa, berbagi makanan, maupun kegiatan sosial lainnya.
“Ramadan adalah waktu yang penuh berkah. Selain berpuasa, mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama, mempererat kerukunan, dan menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang beragam,” ungkapnya.
Dalam konteks ini, Sastra juga mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati antar umat beragama. Di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Bogor, menjaga toleransi menjadi kunci utama agar Ramadan bisa berlangsung dengan penuh kedamaian.
Selain mengajak masyarakat untuk meningkatkan toleransi, Sastra juga menyatakan aturan terkait operasional tempat hiburan malam (THM) selama Ramadan. Ia meminta pengelola tempat hiburan untuk mematuhi peraturan daerah yang mengatur jam operasional, bahkan kemungkinan adanya penutupan sementara selama bulan puasa.
Menurutnya, hal ini merupakan langkah penting untuk menciptakan suasana yang kondusif serta menghormati umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah.
“Saya harap semua pihak, khususnya pengelola tempat hiburan malam, dapat mematuhi aturan yang ada. Selama Ramadan, ada pembatasan jam operasional atau bahkan penutupan sementara. Ini semua demi menjaga ketertiban dan menghormati umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa,” jelas Sastra.
Regulasi ini bukan tanpa alasan. Di beberapa daerah, keberadaan tempat hiburan malam sering menjadi perdebatan terkait dampaknya terhadap suasana Ramadan. Oleh karena itu, pemerintah daerah berupaya menyeimbangkan antara hak usaha dan kepentingan umat yang menjalankan ibadah.
Salah satu tradisi Ramadan yang juga disoroti oleh Sastra adalah sahur on the road. Meski awalnya bertujuan untuk berbagi makanan kepada kaum dhuafa, dalam praktiknya, kegiatan ini kerap menimbulkan gangguan ketertiban umum, seperti kemacetan, kebisingan, bahkan aksi konvoi yang berujung pada keributan.
Ia mengimbau agar masyarakat lebih bijak dalam berbagi, misalnya dengan menyalurkan makanan langsung ke panti asuhan atau kaum dhuafa, tanpa harus melakukan kegiatan di jalan raya yang berpotensi menimbulkan masalah.
“Berbagi makanan sahur bisa dilakukan dengan cara yang lebih tertib, seperti menyantuni panti asuhan atau mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, semangat berbagi tetap terjaga tanpa menimbulkan gangguan ketertiban,” tambahnya.
Ajakan ini selaras dengan upaya menciptakan suasana Ramadan yang lebih kondusif, di mana semangat berbagi tetap tinggi tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat lainnya.
Di samping ajakan untuk menjaga ketertiban dan toleransi, Sastra juga mendorong umat Muslim untuk lebih aktif dalam meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan. Ia mengajak masyarakat untuk lebih rajin mengikuti shalat tarawih berjamaah, membaca Al-Qur’an, serta menghadiri kajian-kajian keagamaan.
“Tingkatkan ibadah kita, manfaatkan bulan penuh berkah ini untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semoga segala amal ibadah kita diterima dan membawa keberkahan,” pesannya.
Editor: B. Supriyadi





































