Film Pernikahan Arwah: Ketegangan Mistis dalam Tradisi Pernikahan Leluhur

Sutradara Paul Agusta menghadirkan detail autentik dalam film Pernikahan Arwah (The Butterfly House)
Pernikahan Arwah /The Butterfly House (YouTube)

TIMETODAY.ID — Sutradara Paul Agusta menghadirkan detail autentik dalam film Pernikahan Arwah (The Butterfly House) dengan menjaga keaslian budaya Tionghoa sebagai inti cerita.

Untuk memastikan akurasi budaya, ia bekerja sama dengan konsultan khusus serta penjaga kelenteng selama proses syuting di Lasem, Jawa Tengah.

“Kami juga konsul dengan penjaga kelenteng di Lasem, mereka on set juga, apalagi adegan-adegan yang seremoni-seremoni tertentu mereka ngejagain,” ungkap Paul Agusta dalam konferensi pers di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 20 Februari 2025.

Advertisement

Ia menegaskan bahwa kehadiran konsultan dan penjaga kelenteng bertujuan agar setiap adegan tetap sesuai dengan tradisi yang diangkat.

“Kami berusaha setia terhadap budaya yang kami angkat agar tidak terjadi kesalahan,” tambahnya. Selain itu, riset mendalam juga dilakukan, termasuk membaca berbagai referensi mengenai elemen visual, arsitektur, dan gaya busana peranakan Tionghoa di Indonesia.

Mengangkat Tradisi Pernikahan Arwah

Diproduksi oleh Entelekey Media Indonesia dan Relate Films, Pernikahan Arwah mengisahkan tradisi pernikahan arwah yang masih hidup dalam budaya Tionghoa. Film ini mengikuti perjalanan Salim dan Tasya, pasangan yang mengalami teror dari arwah leluhur keluarga Salim.

Baca Juga :  4 Resep Snack Apel Sehat dan Lezat untuk Anak

Meski berlatar budaya Tionghoa, Paul menegaskan bahwa cerita dalam film ini memiliki pesan universal. “Ini adalah kisah cinta yang melibatkan perbedaan kepercayaan leluhur dan keinginan pribadi, sesuatu yang bisa dirasakan oleh siapa saja,” jelasnya.

Tim produksi pun berhati-hati dalam pengambilan adegan ritual. Mantera dalam bahasa Mandarin yang digunakan dalam film berasal dari tradisi asli, tetapi sengaja tidak diucapkan secara lengkap untuk menghindari dampak yang tidak diinginkan. “Kami selalu diperingatkan untuk tidak melafalkan seluruh mantera,” kata Paul.

Lasem, Latar Autentik Penuh Sejarah

Lasem dipilih sebagai lokasi utama syuting karena kekayaan sejarah dan budayanya. Produser sekaligus pendiri Relate Films, Perlita Desiani, menjelaskan bahwa kota ini menghadirkan keindahan serta keaslian budaya Tionghoa di Indonesia, yang memperkuat atmosfer cerita dalam film.

Baca Juga :  Biaya Bangun Kos-kosan di 2026 Capai Rp5,5–6,5 Juta per Meter Persegi

Film Pernikahan Arwah akan tayang di Indonesia mulai 27 Februari 2025 serta diputar di tujuh negara Asia lainnya, termasuk Vietnam, Kamboja, Malaysia, Filipina, Myanmar, Laos, dan Brunei Darussalam.

Misteri dan Teror Arwah Leluhur

Kisah film ini bermula saat Salim (Morgan Oey) dan Tasya (Zulfa Maharani) memutuskan untuk melakukan sesi foto pra-pernikahan di rumah keluarga Salim setelah kematian bibinya. Namun, kedatangan mereka tanpa disadari membangunkan arwah leluhur yang telah lama meninggal sejak masa pendudukan Jepang.

Selain harus mengurus pemakaman bibinya, Salim diwajibkan menjalankan ritual keluarga, termasuk membakar dupa di altar setiap hari. Jika ia melanggarnya, nyawanya terancam. Seiring berjalannya waktu, teror semakin intens, mendorong Tasya untuk mengungkap misteri yang menyelimuti keluarga Salim.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel