TIMETODAY.ID, BOGOR – Kabupaten Bogor kerap disebut sebagai daerah penyangga ibu kota, tetapi kemajuannya masih jauh dari harapan.
Hal ini diungkapkan dengan nada tinggi oleh Kepala Desa Pasirmadang Encep Suryadi dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. untuk perencanaan tahun 2026, yang berlangsung di aula Kecamatan Sukajaya. pada, Rabu (12/02/2024).
Dalam forum tersebut, Encep mengungkapkan kekesalannya karena berbagai usulan yang diajukan selama bertahun-tahun tidak kunjung mendapat tanggapan dari pemerintah.
“Kapan Kabupaten Bogor ini menjadi kabupaten bogor termaju, kabupaten bogor selaku penyangga ibu kota. Bagaimana mau maju, mau hebat, penyangga sumber dayanya terbengkalai,” serunya lantang.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotannya adalah kondisi pendidikan di wilayahnya.
Ia mengungkapkan bahwa sejak tahun 2017, pihak sekolah terus meminta bantuan untuk relokasi dan perbaikan gedung baru. Namun, hingga saat ini, tak ada realisasi yang jelas.
“Tolong di catat pak SDN Pasirmadang 2 itu sekolah. Sehebat apapun kemajuan di wilayah kita, tanpa sarana pendidikan tidak akan ada hasilnya,” tegasnya.
“Hanya 2024 kemarin kami mendapat satu gedung tiga ruangan itu juga harus rebutan dengan desa lain,” tambahnya.
“Untuk sekarang gak ada lagi disini ini Musrenbang kemana,” beberapa dia.
Terlebih kata dia dengan program visi-misi “Satu Desa, Satu Sarjana” yang dicanangkan, ia menilai tidak akan sejalan dengan kondisi pendidikan dasar yang terbengkalai.
“Kami tidak mau, kami menjabat di desa hanya jadi penonton. Apalagi Dengan visi misinya satu desa satu sarjana. Mau bagaimana mau Sarjana sekolah dasarnya saja gak di jawab jawab, hanya omon-omon doang kita melangsungkan Musrenbang hanya dengan dasar saran saja ?,”
Selain pendidikan, Kepala Desa Pasirmadang juga mengkritik lambannya peningkatan infrastruktur jalan.
Sejak tahun 2014, desanya telah mengusulkan perbaikan jalan STA Pasirmadang–Cisarua–Cileuksa, yang menurutnya sangat penting untuk akses masyarakat.
“Ini pembangunan kebijakan Kecamatan Sukajaya di mana? Jalan ini pembuka akses! Kalau dilaksanakan oleh desa sendiri berat di ongkos. Saya sudah dua periode menjabat, tapi belum setengahnya terbangun!” keluhnya.
Ia bahkan mengancam untuk tidak lagi menghadiri Musrenbang jika usulan mereka terus diabaikan.
“Kalau hari ini satu pun usulan saya tidak ada yang masuk, buat apa saya datang lagi? Bila perlu, pecat saya dari jabatan kepala desa kalau saya tidak bisa memperjuangkan ini!” ujarnya dengan tegas.
Ia berharap forum Musrenbang tidak hanya sekadar menjadi agenda tahunan tanpa hasil konkret.
“Tolong pemangku kebijakan perencana dalam rapat Musrenbang ini jangan hanya menjadikannya dokumen di ruang arsip! Musrenbang itu harus terukur!” pungkasnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































