TIMETODAY.ID – Fenomena ‘quiet quitting‘ merujuk pada sikap di mana karyawan hanya melakukan tugas sesuai deskripsi pekerjaan tanpa berusaha melebihi ekspektasi atau mengambil tanggung jawab tambahan. Istilah ini menjadi populer di kalangan Generasi Milenial dan Z, mencerminkan perubahan dalam pandangan mereka terhadap dunia kerja.
Penyebab ‘Quiet Quitting’ di Kalangan Generasi Milenial dan Z
- Keseimbangan Hidup dan Kerja (Work-Life Balance): Generasi ini sangat menghargai keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Mereka tidak ingin pekerjaan mengorbankan waktu untuk keluarga, teman, dan hobi.
- Kepuasan Kerja: Banyak dari mereka merasa tidak puas dengan pekerjaan mereka, baik karena lingkungan kerja yang tidak mendukung, kurangnya peluang pengembangan diri, atau gaji yang tidak sesuai.
- Kurangnya Pengakuan dan Imbalan: Upaya ekstra sering kali tidak diakui atau dihargai oleh perusahaan, sehingga karyawan merasa lebih baik hanya melakukan yang diperlukan saja.
- Budaya Kerja yang Tidak Mendukung: Lingkungan kerja yang tidak mendukung, seperti beban kerja berlebih, kompensasi yang buruk, dan batasan yang kabur antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, mendorong karyawan untuk melakukan ‘quiet quitting’.
Dampak ‘Quiet Quitting’
Meskipun ‘quiet quitting’ dapat membantu karyawan menjaga kesehatan mental dan fisik, serta keseimbangan hidup, fenomena ini juga dapat memengaruhi produktivitas dan perkembangan karier jangka panjang. Perusahaan perlu memahami penyebabnya dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung untuk mengurangi tren ini.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































