
TIMETODAY.ID – Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) berdampak positif terhadap nilai tukar mata uang global.
Indeks dolar AS (DXY) yang melemah menyebabkan banyak mata uang dunia mengalami penguatan.
Trump resmi dilantik sebagai Presiden ke-47 AS pada Senin, 20 Januari 2025. Dua hari setelah pelantikan, DXY terlihat turun dari 109,34 menjadi 108,16.
Penurunan dolar AS dan penguatan mata uang global terjadi, salah satunya, karena Trump sedikit lebih fleksibel dalam kebijakan tarif perdagangan.
Berbeda dengan pernyataan tegasnya sebelum pelantikan, Trump tidak langsung menerapkan kenaikan tarif pada hari pertama masa jabatannya.
Sebelumnya, Trump berencana mengenakan tarif 10 hingga 20% untuk semua barang impor dan hingga 60% untuk barang-barang dari China.
Ia juga mengancam akan menaikkan tarif sebesar 25% pada barang impor dari Kanada dan Meksiko jika negara-negara tersebut tidak menangani masalah narkoba ilegal dan migrasi ilegal ke AS.
Namun, ancaman-ancaman tersebut tidak terwujud pada hari pertama Trump menjabat, meskipun tidak berarti ancaman tersebut sepenuhnya hilang.
Penguatan Mata Uang Dunia
Berdasarkan data dari Refinitiv, sejak 17 Januari 2025 hingga 22 Januari 2025, mata uang dunia mengalami penguatan, seiring dengan penurunan DXY.
DXY tercatat melemah sebesar 1,08% selama periode tersebut.
Sementara itu, sejumlah mata uang mengalami penguatan yang signifikan, melebihi penurunan DXY, seperti rubel Rusia, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan yang masing-masing menguat 3,2%, 1,6%, dan 1,4%. Rupiah Indonesia juga mencatatkan penguatan sebesar 0,5%.
Namun, ada beberapa mata uang yang mengalami pelemahan, seperti peso Filipina dan yen Jepang yang terkoreksi masing-masing sebesar 0,2% dan 0,1%.
Menurut Reuters, setelah pelantikan Trump pada 20 Januari 2025, nilai tukar rubel Rusia terhadap dolar AS tetap stabil.
Pada 21 Januari 2025, rubel diperdagangkan di angka 100,75 per dolar AS di Bursa Saham Moskow (MOEX).
Sejak awal tahun 2025, rubel telah menguat sekitar 10%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di pasar negara berkembang tahun ini.
Penguatan ini didorong oleh peningkatan penjualan valuta asing oleh pemerintah Rusia dan kenaikan harga minyak, meskipun ada sanksi energi yang dijatuhkan oleh AS pada 10 Januari 2025.
Selain itu, janji Presiden Trump untuk menyelesaikan konflik Ukraina-Rusia menimbulkan harapan bahwa beberapa sanksi Barat terhadap Moskow dapat dicabut jika dialog langsung antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin terwujud.
Hal ini berpotensi memperkuat rubel lebih lanjut melalui peningkatan ekspor Rusia dan kembalinya investasi asing seiring integrasi Rusia kembali ke dalam sistem ekonomi global.***
dikutip dari : cnbcindonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel




































