TIMETODAY.ID – Bekantan atau dikenal juga sebagai Monyet Belanda merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang tersebar di Indonesia, Brunei, dan Malaysia.
Melansir tnsebangau.com, satwa ini memiliki ciri khas berupa hidung panjang dan besar serta bulu berwarna cokelat kemerahan. Dalam dunia ilmiah, bekantan disebut dengan nama Nasalis larvatus.
Dalam bahasa Inggris, bekantan dikenal sebagai Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey. Di negara lain, sebutannya beragam, seperti Kera Bekantan di Malaysia, Bangkatan di Brunei, dan Neusaap di Belanda.
Masyarakat Kalimantan menyebutnya dengan berbagai nama seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng, dan Kahau.
Bekantan merupakan satu dari dua spesies dalam Genus Nasalis yang terdiri dari dua subspesies, yaitu Nasalis larvatus larvatus yang tersebar di hampir seluruh Kalimantan dan Nasalis larvatus orientalis yang hidup di bagian timur laut pulau tersebut.
Satwa ini berstatus konservasi “Terancam” (Endangered) menurut IUCN Redlist dan menjadi fauna identitas Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990. Selain itu, bekantan juga menjadi maskot Dunia Fantasi Ancol.
Ciri khas bekantan jantan adalah hidungnya yang besar dan panjang, yang diduga menarik perhatian betina sebagai bagian dari seleksi alam.
Bekantan jantan berukuran lebih besar dengan panjang tubuh mencapai 75 cm dan berat hingga 24 kg, sementara betina berukuran sekitar 60 cm dengan berat 12 kg.
Ciri lain yang mencolok adalah perutnya yang buncit akibat pola makan dedaunan yang menghasilkan gas saat dicerna.
Bekantan hidup berkelompok yang dipimpin oleh seekor jantan dominan. Setiap kelompok biasanya terdiri dari 10 hingga 30 individu. Satwa ini lebih sering berada di pepohonan, namun juga dikenal sebagai perenang andal yang dapat menyebrangi sungai atau berpindah antar pulau.
Bekantan betina memiliki masa kehamilan sekitar 166 hari atau 5-6 bulan dan biasanya hanya melahirkan satu anak. Anak bekantan akan tetap bersama induknya hingga mencapai usia dewasa pada umur 4-5 tahun.
Habitat alami bekantan masih dapat ditemukan di beberapa kawasan konservasi seperti Suaka Margasatwa Pleihari Tanah Laut, Suaka Margasatwa Martapura, Cagar Alam Pulau Kaget, Gunung Kentawan, Selat Sebuku, dan Teluk Kelumpang.
Mereka juga menghuni area di sekitar Sungai Barito, Sungai Negara, Sungai Paminggir, Sungai Tapin, Pulau Bakut, dan Pulau Kembang.
Populasi bekantan mengalami penurunan drastis. Pada tahun 1987, populasi bekantan di Kalimantan diperkirakan mencapai 260.000 ekor, namun pada 2008 jumlahnya menurun menjadi sekitar 25.000 ekor akibat perusakan habitat dan kebakaran hutan.
Satwa ini juga termasuk dalam Apendiks I CITES, yang berarti dilarang diperjualbelikan secara internasional. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































